16/Feb/2019

Insiden pasien jatuh merupakan salah satu fokus sasaran keselamatan pasien di rumah sakit. Di Amerika Serikat sekitar 700.000 sampai 1.000.000 orang jatuh di rumah sakit setiap tahunnya. Berdasarkan data dari NRLS (National Reporting and Learning System) tahun 2015/2016, insiden pasien jatuh di Inggris merupakan insiden yang paling sering terjadi di rumah sakit umum dan menduduki peringkat tiga besar insiden di rumah sakit jiwa. Angka kejadian pasien jatuh di Indonesia sendiri belum ada angka pasti, berdasarkan laporan dari kongres XII PERSI tahun 2012 menyatakan bahwa kejadian pasien jatuh termasuk dalam tiga besar insiden medis rumah sakit dan menduduki peringkat kedua setelah medication error yaitu sebesar 14%.(Agency for Healthcare Research and Quality, 2013; NHS, 2017; Dewi and Noprianty, 2018) Data di Rumah Sakit Al Islam Bandung sebagai salah satu rumah sakit swasta di Bandung memperlihatkan ada 9 kasus pasien jatuh pada tahun 2015, turun menjadi 3 kasus pada tahun 2016 kemudian naik kembali menjadi 7 kasus pada tahun 2017. Tahun 2018 tercatat 5 pasien jatuh pada tahun 2018. Kasus jatuh yang terjadi tidak menimbulkan cedera yang serius.

Di Amerika Serikat Sekitar 30-50% dari pasien jatuh di rumah sakit mengalami cedera. Cedera akibat jatuh memerlukan tambahan pengobatan dan menambah lama rawat 6,3 hari. Rata-rata biaya yang dibutuhkan dalam penanganan cedera akibat jatuh tersebut sekitar $14.000. Berdasarkan data dari The Joint Commision, sejak tahun 2009 sentinel even akibat jatuh terdapat sebesar 465 kasus. Insiden pasien jatuh disertai dengan cedera serius termasuk dalam 10 kasus terbanyak dari sentinel even. Tingginya dampak dari insiden pasien jatuh menuntut rumah sakit, perawat, dan profesi pemberi asuhan kesehatan lain untuk membuat program pencegahan cedera akibat jatuh yang efektif dalam mencegah insiden pasien jatuh di rumah sakit.(The Joint Commission, 2015; Chu, 2017)

Pencegahan insiden jatuh memerlukan pendekatan asuhan secara interdisiplin. Beberapa bagian dari program pencegahan jatuh merupakan tindakan rutin, tetapi beberapa aspek lain merupakan penanganan yang spesifik dan berbeda untuk setiap pasien. Pencegahan jatuh membutuhkan keterlibatan banyak orang termasuk semua profesi pemberi asuhan dan keluarga pasien. Untuk meningkatkan koordinasi semua pihak, dibutuhkan budaya organisasi dan standar operasional dalam kerjasama tim dan komunikasi, serta kompetensi individual. Program pencegahan jatuh harus memperhatikan keseimbangan dengan faktor lain, seperti meminimalkan restrain dan mempertahankan mobilitas pasien untuk memberikan asuhan terbaik. Peningkatan pencegahan insiden jatuh harus berfokus pada sistem yang perlu diubah.(Agency for Healthcare Research and Quality, 2013)

Rumah Sakit Al Islam Bandung sebagai rumah sakit dengan badan hukum Yayasan RSI KSWI Jawa Barat selalu berkomitmen untuk terus menerus meningkatkan mutu layanan dan keselamatan pasien. Pencegahan pasien jatuh merupakan komitmen dari Rumah Sakit Al Islam Bandung, sebagaimana tertuang dalam peraturan direktur nomor 1874/RSAI/PER/DIR/IV/2018, serta membuat panduan pencegahan pasien jatuh yang dimulai dengan melakukan identifikasi risiko jatuh pasien, memberikan fasilitas pendukung, melakukan upaya penanggulangan, membuat laporan insiden pasien jatuh, evaluasi insiden pasien jatuh sampai upaya perbaikan yang secara terus-menerus dilakukan.(Amalia, Amalia and Andayani, 2018)

Indikator proses observasi dari kepatuhan penanganan pasien risiko jatuh diambil sebagai upaya lanjutan pencegahan pasien jatuh, untuk melihat apakah upaya pencegahan sesuai dengan protokol pencegahan pasien jatuh. Melakukan pendataan jumlah pasien yang jatuh dan tindak lanjutnya merupakan upaya awal dalam mencegah insiden pasien jatuh.

Pencapaian kepatuhan pencegahan risiko cedera akibat jatuh masih sedikit dibawah standar. Capaian pada tahun 2018 rata-rata sebesar 96,58%. Angka kepatuhan pencegahan risiko cedera akibat pasien jatuh di RS Al Islam Bandung apabila dibandingkan dengan data dari rumah sakit lain memperlihatkan hasil capaian yang cukup baik dan rumah sakit pembanding memperlihatkan angka kepatuhan yang juga belum mencapai standar (lihat tabel 1). Program pencegahan risiko cedera akibat jatuh sudah dilakukan di RS Al Islam sejak tahun 2016. Pencapaian kepatuhan pencegahan risiko jatuh tahun 2016 dan 2017 sudah di atas target yaitu lebih dari 95%. Mengevaluasi hasil capaian tersebut, maka komite peningkatan mutu dan keselamatan pasien (PMKP) bersama-sama dengan unit pelayanan meningkatkan standar kepatuhan pencegahan risiko cedera akibat jatuh menjadi 100% untuk tahun 2018.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 129/Menkes/SK/II/2008 tentang standar pelayanan minimal (SPM) rumah sakit, untuk rawat inap diantaranya adalah tidak adanya kejadian pasien jatuh yang berakibat kecacatan/kematian harus 100%, sedangkan kepatuhan pencegahan risiko cedera akibat jatuh secara umum belum ada peraturan yang menjelaskannya baik konsensus nasional maupun konsensus profesi sehingga standar ditetapkan secara konsensus pada tahun pertama dan dapat disesuaikan dengan tren naik atau turun. (Kemenkes RI, 2008; Luwiharsih, 2018). Sejak tahun 2016 sampai saat ini, tidak ada pasien yang sampai meninggal atau cacat karena jatuh di RS Al Islam Bandung.

Untuk capaian setiap bulan memperlihatkan tren di atas 95% (Lihat tabel 2) kecuali pada bulan September dan Oktober. Terjadi penurunan kepatuhan di bulan September 2018 yang disebabkan karena:

  1. Secara tidak langsung ada perubahan dalam pendokumentasian upaya pencegahan jatuh secara manual menjadi e-medrek, sehingga mempengaruhi kinerja karena ada hal baru yang belum terbiasa dilakukan.
  2. Belum optimalnya supervisi terhadap kepatuhan staf.
  3. Dimasukannya satu poin yaitu adanya asesmen jatuh di rawat jalan dan IGD sebagian bentuk upaya pencegahan jatuh

Adanya perubahan metode pengumpulan data ke e-medrek merupakan tuntutan dari akreditasi rumah sakit di Indonesia oleh Komite Akreditasi Rumah Sakit untuk memudahkan Komite PMKP. Perubahan sistem pencatatan dari manual ke elektronik mensyaratkan validasi data untuk memastikan pengambilan data yang baru tetap konsisten dan reproducible. Hasil validasi memperlihatkan hasil 84% yang artinya proses pengumpulan data dapat dilakukan dengan e-medrek. Selain perubahan sistem pencatatan, data yang akan dipublikasi ke masyarakat juga harus dilakukan validasi.(Luwiharsih, 2018)

Rencana tindak lanjut dari pencapaian kepatuhan pencegahan risiko cedera akibat jatuh yang belum mencapai standar pada tahun 2018 di Rumah Sakit Al Islam Bandung adalah:

  1. Data kejadian jatuh dan data pencapaian kesesuaian penanganan pasien jatuh akan menjadi data dasar dalam rencana tindak lanjut untuk mencegah pasien jatuh saat dirawat di RS Al Islam.
  2. Optimalisasi fungsi monitoring dan evaluasi oleh supervisor dalam penanganan pasien risiko jatuh.
  3. Kampanye pencegahan risiko jatuh secara terus menerus kepada staf

Cukup banyak tenaga, pikiran, dan waktu yang dihabiskan untuk dapat tetap berkomitmen dalam menjaga keselamatan pasien khususnya untuk mencegah risiko cedera akibat jatuh pada pasien-pasien yang di rawat di RS Al Islam Bandung. Empat tahun terakhir rumah sakit berusaha membentuk sistem pencegahan insiden jatuh disemua faktor yang mempengaruhi, tetapi langkah berikutnya yang jauh lebih sulit adalah terus mempertahankan sistem yang telah berjalan cukup baik secara terus menerus untuk menjaga kualitas pelayanan Rumah Sakit Al Islam Bandung sesuai dengan visinya yaitu “Menjadi Rumah Sakit yang Unggul, Terpercaya dan Islami dalam Pelayanan dan Pendidikan”.

 

Daftar Referensi

Agency for Healthcare Research and Quality (2013) Preventing Falls in Hospitals A Toolkit for Improving Quality of Care. Boston.

Amalia, Amalia, N. and Andayani, Y. (2018) Panduan Pencegahan Pasien Jatuh RS Al Islam Bandung. Bandung.

Chu, B. R. Z. (2017) ‘Preventing in-patient falls : The nurse ’ s pivotal role’, Nursing, 47(3).

Dewi, T. and Noprianty, R. (2018) ‘PHENOMENOLOGI STUDY: RISK FACTORS RELATED TO FAAL INCIDENCE IN HOSPITALICED PEDIATRIC PATIENT WITH THEORY FAYE G. ABDELLAH’, NurseLine Journal, 3(2), pp. 6–7.

Kemenkes RI (2008) Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 129/Menkes/SK/II/2008 tentang standar pelayanan minimal (SPM) rumah sakit.

Luwiharsih (2018) Pemilihan dan Pengumpulan Data (dalam WS PMKP). Semarang.

NHS (2017) The incidence and costs of inpatient falls in hospitals.

The Joint Commission (2015) ‘Preventing falls and fall-related injuries in health care facilities’, Sentinel Event Alert, (55).


09/Feb/2019

Prinsip Gizi Seimbang terdiri dari 4 (empat) Pilar, yang pada dasarnya merupakan rangkaian upaya untuk menyeimbangkan antara zat gizi yang keluar dan zat gizi yang masuk dengan memonitor berat badan secara teratur.

Empat Pilar tersebut adalah:

1. Mengonsumsi makanan beragam.
Tidak ada satupun jenis makanan yang mengandung semua jenis zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk menjamin pertumbuhan dan mempertahankan kesehatannya, kecuali Air Susu Ibu (ASI) untuk bayi baru lahir sampai berusia 6 bulan. Contoh: nasi merupakan sumber utama kalori, tetapi miskin vitamin dan mineral; sayuran dan buah-buahan pada umumnya kaya akan vitamin, mineral dan serat, tetapi miskin kalori dan protein; ikan merupakan sumber utama protein tetapi sedikit kalori. Khusus untuk bayi berusia 0-6 bulan, ASI merupakan makanan tunggal yang sempurna. Hal ini disebabkan karena ASI dapat mencukupi kebutuhan untuk tumbuh dan berkembang dengan optimal, serta sesuai dengan kondisi fisiologis pencernaan dan fungsi lainnya dalam tubuh.

Apakah mengonsumsi makanan beragam tanpa memperhatikan jumlah dan proporsinya sudah benar?
Tidak.

Selain keanekaragaman jenis pangan juga termasuk proporsi makanan yang seimbang, dalam jumlah yang cukup, tidak berlebihan dan dilakukan secara teratur. Anjuran pola makan dalam beberapa dekade terakhir telah memperhitungkan proporsi setiap kelompok pangan sesuai dengan kebutuhan yang seharusnya. Contohnya, saat ini dianjurkan mengonsumsi lebih banyak sayuran dan buah-buahan dibandingkan dengan anjuran sebelumnya. Demikian pula jumlah makanan yang mengandung gula, garam dan lemak yang dapat meningkatkan resiko beberapa Penyakit Tidak Menular (PTM), dianjurkan untuk dikurangi. Akhir-akhir ini minum air dalam jumlah yang cukup telah dimasukkan dalam komponen gizi seimbang. Oleh karena pentingnya air dalam proses metabolisme dan dalam pencegahan dehidrasi.

2. Membiasakan perilaku hidup bersih
Perilaku hidup bersih sangat terkait dengan prinsip Gizi Seimbang. Penyakit infeksi merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi status gizi seseorang secara langsung, terutama anak-anak. Seseorang yang menderita penyakit infeksi akan mengalami penurunan nafsu makan sehingga jumlah dan jenis zat gizi yang masuk ke tubuh berkurang. Sebaliknya pada keadaan infeksi, tubuh membutuhkan zat gizi yang lebih banyak untuk memenuhi peningkatan metabolisme pada orang yang menderita infeksi, terutama apabila disertai panas. Pada orang yang menderita penyakit diare, berarti mengalami kehilangan zat gizi dan cairan secara langsung akan memperburuk kondisinya. Demikian pula sebaliknya, seseorang yang menderita kurang gizi akan mempunyai risiko terkena penyakit infeksi karena pada keadaan kurang gizi daya tahan tubuh seseorang menurun, sehingga kuman penyakit lebih mudah masuk dan berkembang. Kedua hal tersebut menunjukkan bahwa hubungan kurang gizi dan penyakit infeksi adalah hubungan timbal balik.

Dengan membiasakan perilaku hidup bersih, akan menghindarkan seseorang dari keterpaparan terhadap sumber infeksi. Contoh: 1) selalu mencuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir sebelum makan, sebelum memberikan ASI, sebelum menyiapkan makanan dan minuman, dan setelah buang air besar dan kecil, akan menghindarkan terkontaminasinya tangan dan makanan dari kuman penyakit antara lain kuman penyakit typus dan disentri; 2) menutup makanan yang disajikan akan menghindarkan makanan dihinggapi lalat dan binatang lainnya, serta debu yang membawa berbagai kuman penyakit; 3) selalu menutup mulut dan hidung bila bersin, agar tidak menyebarkan kuman penyakit; dan 4) selalu menggunakan alas kaki agar terhindar dari penyakit cacingan.

3. Melakukan aktivitas fisik.
Aktivitas fisik yang meliputi segala macam kegiatan tubuh termasuk olahraga merupakan salahsatu upaya untuk menyeimbangkan antara pengeluaran dan pemasukan zat gizi utamanya sumber energi dalam tubuh. Aktivitas fisik memerlukan energi. Selain itu, aktivitas fisik juga memperlancar sistem metabolisme di dalam tubuh termasuk metabolisme zat gizi. Oleh karenanya, aktivitas fisik berperan dalam menyeimbangkan zat gizi yang keluar dari dan masuk ke dalam tubuh.

4. Mempertahankan dan memantau Berat Badan (BB) normal
Bagi orang dewasa salah satu indikator yang menunjukkan bahwa telah terjadi keseimbangan zat gizi di dalam tubuh adalah tercapainya berat badan yang normal, yaitu berat badan yang sesuai untuk tinggi badannya. Indikator tersebut dikenal dengan Indeks Masa Tubuh (IMT). Oleh karena itu, pemantauan BB normal merupakan hal yang harus menjadi bagian dari ‘Pola Hidup’ dengan ‘Gizi Seimbang’, sehingga dapat mencegah penyimpangan BB dari BB normal, dan apabila terjadi penyimpangan dapat segera dilakukan langkah-langkah pencegahan dan penanganannya.

Bagi bayi dan balita, indikator yang digunakan adalah perkembangan berat badan sesuai dengan pertambahan umur. Pemantauannya dilakukan dengan menggunakan KMS (Kartu Menuju Sehat).
Berat Badan Normal adalah :

a. untuk orang dewasa jika IMT 18,5 – 25,0;

 

 

 

b. bagi anak Balita dengan menggunakan KMS dan berada di dalam pita hijau.

 

bersambung…


29/Jan/2019

Bismillaahirrahmaanirrahiiim.

Pola makan merupakan perilaku paling penting yang dapat mempengaruhi keadaan gizi seseorang. Hal ini disebabkan karena kuantitas dan kualitas makanan dan minuman yang dikonsumsi akan mempengaruhi tingkat kesehatan. Agar tubuh tetap sehat dan terhindar dari berbagai penyakit kronis atau penyakit tidak menular (PTM) terkait gizi, maka pola makan perlu ditingkatkan kearah konsumsi gizi seimbang.

Keadaan gizi yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Gizi yang optimal sangat penting untuk pertumbuhan normal serta perkembangan fisik dan kecerdasan bayi, anak-anak, serta seluruh kelompok umur. Gizi yang baik membuat berat badan normal atau sehat, tubuh tidak mudah terkena penyakit infeksi, produktivitas kerja meningkat serta terlindung dari penyakit kronis dan kematian dini.

Gizi yang tidak optimal berkaitan dengan kesehatan yang buruk. Gizi yang tidak baik adalah faktor risiko PTM, seperti penyakit kardiovaskular (penyakit jantung dan pembuluh darah, hipertensi dan stroke), diabetes juga kanker. Pengaruh kekurangan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan yaitu sejak janin sampai anak berumur dua tahun, tidak hanya terhadap perkembangan fisik, tetapi juga terhadap perkembangan kognitif yang pada gilirannya berpengaruh terhadap kecerdasan dan ketangkasan berpikir serta terhadap produktivitas kerja. Sebaliknya, kelebihan gizi  timbul akibat kelebihan asupan makanan dan minuman kaya energi, kaya lemak jenuh, gula dan garam tambahan, namun kekurangan asupan pangan bergizi seperti sayuran, buahbuahan dan serealia utuh, serta kurang melakukan aktivitas fisik.

 

Masih ingatkah dengan selogan “4 Sehat 5 Sempurna”?

 

Slogan tersebut mulai diperkenalkan pada tahun 1952, oleh Prof. Poorwo Soedarmo dan berhasil menanamkan pengertian tentang pentingnya gizi serta merubah perilaku konsumsi masyarakat. Namun, slogan tersebut sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan ilmu dan permasalahan gizi dewasa ini, sehingga perlu diperbaharui dengan slogan yang sesuai dengan kondisi saat ini, yaitu “Pedoman Gizi Seimbang”. Perbedaan mendasar dari slogan ini adalah, konsumsi makan sehari-hari harus mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah (porsi) yang sesuai dengan kebutuhan setiap orang atau kelompok umur.

 

Ada 10 pesan gizi seimbanng yang perlu kita perhatikan.

  1. Syukuri dan nikmati anekaragam jenis makanan;
  2. Banyak makan sayuran dan cukup buah-buahan;
  3. Konsumsi lauk-pauk berprotein tinggi;
  4. Konsumsi anekaragam makanan pokok;
  5. Batasi konsumsi makanan manis, asin dan berlemak;
  6. Biasakan sarapan pagi sebelum beraktifitas;
  7. Minum air putih yang cukup dan aman;
  8. Biasakan baca label pada kemasan makanan;
  9. Biasakan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir;
  10. Berolahraga secara teratur dan jaga berat badan normal.

 

bersambung…


28/Jan/2019

Hepatitis merupakan kondisi terjadinya peradangan pada hati yang disebabkan oleh infeksi atau toksin, termasuk alkohol. Ada dua jenis hepatitis, yakni akut dan kronik.

Hepatitis akut adalah penyakit infeksi akut dengan gejala utama yang berhubungan erat dengan adanya nekrosis (matinya jaringan) pada jaringan hati. Sedangkan hepatitis kronik adalah suatu sindrom klinis dan patologis yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi yang ditandai oleh berbagai tingkat peradangan dan nekrosis pada hati yang berlangsung terus-menerus tanpa penyembuhan dalam waktu paling sedikit 6 bulan.

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya hepatitis, diantaranya:

  1. Infeksi virus seperti hepatitis A, B, C dan D;
  2. Obat-obatan, bahan kimia, dan racun;
  3. Reaksi transfusi darah yang tidak terlindungi virus hepatitis.

 

Bagaimana gejala yang ditimbulkan saat penderita mengalami hepatitis?

Berikut, tanda dan gejala penyakit hepatitis:

  • Selera makan hilang;
  • Rasa tidak enak di perut;
  • Mual hingga muntah;
  • Demam, namun tidak tinggi;
  • Terkadang disertai nyeri sendi;
  • Nyeri dan bengkak pada perut sisi kanan atas (lokasi hati);
  • Bagian putih pada mata (sklera) tampak kuning;
  • Kulit seluruh tubuh tampak kuning;
  • Air seni berwarna coklat seperti air teh.

Jika peradangan hati semakin parah, hingga menyebabkan gagal hati, dapat menyebabkan komplikasi atau mengakibatkan ensefalopati hepatik. Ensefalopati hepatik terjadi pada kegagalan hati berat yang disebabkan oleh akumulasi amonia serta metabolik toksik yang merupakan stadium lanjut ensefalopati hepatik. Kerusakan jaringan parenkim hati yang meluas, akan menyebabkan sirosis hepatis. Penyakit ini lebih banyak ditemukan pada alkoholik.

Terbatasnya pengobatan hepatitis, mendasari penekanan lebih diarahkan pada pencegahan. Kini tersedia globulin imun HBV tertinggi (HBIG) dan vaksin untuk pencegahan dan pengobatan HBV, khususnya bagi petugas yang terlibat dalam kontak resiko tinggi, misalnya pada hemodialisis, transfusi tukar dan terapi parenteral perlu sangat hati-hati dalam menangani peralatan parenteral tersebut.

  • Hindari kontak langsung dengan barang yang terkontaminasi virus hepatitis akut;
  • Pelihara personal hygiene dan lingkungan;
  • Gunakan alat-alat disposible untuk suntik;
  • Alat-alat yang terkontaminasi disterilkan.

Perawatan pada saat di rumah, bisa melakukan hal-hal berikut ini:

  • Istrirahat yang baik;
  • Melakukan imunisasi;
  • Menjaga kebersihan (personal hyginen);
  • Makan makanan tinggi kalori;
  • Menghindari hubungan seks atau memakai kondom untuk mencegah pertukaran cairan;
  • Tidak mengkomsumsi alkohol.

 


26/Jan/2019

Bismillaahirrahmaanirrahiiim.

Dispepsia merupakan suatu kondisi dimana penderita merasakan nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut bagian atas, atau dada. Biasanya penderita sering merasa seperti adanya gas, perasaan penuh atau rasa sakit dan/atau rasa terbakar di perut.

Munculnya rasa nyeri pada dispepsia, bisa disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya:

  1. Menelan udara (aerofagi);
  2. Regurgitasi (alir balik, refluks) asam dari lambung;
  3. Iritasi lambung (gastritis);
  4. Ulkus gastrikum atau ulkus duo denalis;
  5. Kanker lambung;
  6. Peradangan kandung empedu (kolesistitis);
  7. Intoleransi laktosa (ketidakmampuan mencerna susu dan produknya);
  8. Kelainan gerakan usus;
  9. Kecemasan atau depresi.

Rasa tidak nyaman pada perut biasanya disebabkan oleh berlebihnya volume asam lambung. Asam lambung adalah zat yang dihasilkan untuk mencerna, jika perut kosong atau jika produksi asam lambung berlebih sehingga jumlahnya tidak sesuai dengan jumlah zat yang dicerna, maka dapat menyebabkan luka pada permukaan lambung.

Nyeri dan rasa tidak nyaman pada perut atas atau dada, bisa juga disertai dengan serdawa dan suara usus yang keras. Pada beberapa penderita dispepsia, makan dapat memperburuk nyeri. Sedangkan pada penderita yang lain, makan bisa mengurangi nyeri yang dirasakan. Gejala lain meliputi, nafsu makan yang menurun, mual, sembelit, diare dan flatulensi (perut kembung).

Jika keluhan terus dibiarkan, maka luka yang terjadi dapat berlanjut sampai ke bagian dalam lambung. Sehingga menyebabkan lambung menjadi berlubang dan akhirnya terjadi pendarahan dan kanker lambung.

Kita tentu tidak ingin mengalami hal itu, kalaupun terlanjur menderita dispepsia, kita wajib merawatnya agar kondisi tidak semakin buruk. Berikut uraian cara perawatan dan pencegahannya:

  1. Makan dengan porsi kecil tapi sering. Contohnya, biskuit dan roti;
  2. Menghindari alkohol dan kopi;
  3. Menghindari makanan yang merangsang lambung. Contohnya, cabe, cuka, sambal, ketan dan sebagainya;
  4. Hindari rokok;
  5. Makan teratur sesuai dan tepat waktu;
  6. Istirahat cukup;
  7. Menghindari stres;
  8. Minum obat bila sakit mag kambuh. Bila harus minum obat karena suatu penyakit, misalnya sakit kepala, gunakan obat secara wajar sehingga tidak mengganggu fungsi lambung.

Kunyit bisa membantu meredakan gejala dispepsia. Cara mengolahnya, dua rimpang kunyit seukuran ibu jari, dicincang lalu campurkan dengan ± 1,5 gelas air, lalu rebus hingga mendidih dan biarkan sampai volume air berkurang menjadi satu gelas. Kemudian disaring dan diminum tiga kali sehari sampai nyeri lambung menghilang. Jika terasa pahit, rebusan kunyit tersebut bisa ditambahkan gula merah atau madu.

Hindari mengonsumsi kunyit berlebihan. Sebab akan menjadikan kandung empedu kosong. Sehingga sistem pencernaan terganggu. Saat yang tepat untuk mengonsumsi kunyit sebagai obat nyeri lambung, yaitu saat konsentrasi asam lambung cenderung berlebihan. Jika asam lambung sudah dalam batas wajar, ditandai dengan hilangnya nyeri dan mual, maka pengobatan segera dihentikan.


LOGO-PUTIH-compress

About Us :
RS Al Islam Bandung adalah Rumah Sakit milik Yayasan RSI KSWI Jawa Barat yang mempunyai visi "Menjadi Rumah Sakit Yang Unggul, Terpercaya dan Islami dalam Pelayanan dan Pendidikan"

RS Al Islam Bandung
Jl. Soekarno Hatta No. 644
Tel. (022) 7565588
Email : cs@rsalislam.com

Recent Posts

Sertifikat

paripurna-2022-2026-4-11zon

Sertifikat Paripurna

Copyright by RS Al Islam Bandung 2021. All rights reserved.

icon

Jadwal Dokter

Info Jadwal Dokter Terbaru

icon

Customer Care

Sampaikan apa saja sama kami

icon

Daftar Online

Jadwalkan Rencana Kunjungan Anda

Tanya RSAI