19/Jun/2019

Bugar dan Sehat di Bulan Ramadan (2)

Gaga Irawan Nugraha

Dokter Spesialis Gizi Klinik RS Al Islam Bandung

Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

“ …dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.  Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai datang malam…” (Q.S. 2:187)

 

Sebelum membahas tentang sahur, sedikit mengulang tentang berbuka puasa dari artikel minggu lalu.  Pola makan yang dianjurkan saat berbuka adalah sebagai berikut: 1). Berbuka dengan buah-buahan manis berair banyak atau makanan manis tapi tidak terlalu banyak, 2). Minum air, 3). Sholat mahgrib, 4). Makan nasi dan lauk pauknya (4 sehat), 5) Makan makanan lain atau STOP tergantung dari status gizi anda.  Antara berbuka hingga tidur dianjurkan minum antar 4-5 gelas untuk orang dewasa.

Pola makan saat sahur adalah sebagai berikut: 1) Makan nasi dan lauk pauknya, 2). Makan buah berair banyak, 3). Minum Susu untuk yang suka, 4). Makan makanan lainnya. Minum antara 3-4 gelas dari bangun sahur hingga imsyak.

 

Makan sahur sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW, dalam satu hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah bersabda: “Makan Sahur adalah keberkahan, maka janganlah kalian meninggalkannya, walaupun hanya berupa seteguk air, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Malaikat-Nya bershalawat bagi orang-orang yang bersahur.”

 

Sedemikian kuatnya Rasulullah SAW dalam menganjurkan makan sahur.  Dalam pandangan ilmu gizi  makan sahur sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan zat gizi harian yang tidak dapat dipenuhi hanya dengan mengkonsumsi makanan dan minuman saat berbuka saja.  Selain itu makan sahur juga menjadi sumber zat gizi utama untuk menunjang aktivitas seharian sejak azan subuh hingga azan maghrib.

 

Mengingat waktu yang terbatas, dianjurkan makan sahur diawali dengan makan nasi dengan lauk pauknya (4 sehat), yaitu nasi, sumber protein hewani (daging, ikan, ayam atau telur), sumber protein nabati (kacang-kacangan dan produknya seperti tahu dan tempe), serta sayuran.  Makanan 4 sehat ini memiliki komposisi zat gizi yang seimbang dan total energinya cukup besar, sehingga bila kebetulan terlambat bangun sekalipun, bila langsung mengkonsumsi 4 sehat, asupan gizi yang sempat dikonsumsi dapat menunjang kebutuhan zat gizi tubuh saat berpuasa hingga berbuka di sore hari.  Setelah mengkonsumsi makanan 4 sehat jangan lupa minum air.

 

Selanjutnya bila masih memiliki waktu, sahur dapat dilanjutkan dengan mengkonsumsi buah-buahan manis berair banyak (pepaya, semangka, melon, jeruk, nanas, belimbing, anggur, apel dll).  Buah-buahan ini mengandung air, vitamin , dan mineral serta gula buah atau fruktosa.  Fruktosa bermanfaat untuk mengisi cadangan glikogen hati dan otot yang bermanfaat untuk daya tahan saat berpuasa.  Setelah itu sahur dapat dilanjutkan dengan minum susu bagi yang suka.  Susu bermanfaat terutama untuk suplementasi kalsium dan vitamin D.   Minum susu juga menjadi tambahan untuk asupan protein dan air.

 

Bagi yang memiliki status gizi normal atau kurang, termasuk anak yang dalam masa pertumbuhan, bila masih memiliki waktu sebaiknya setelah minum susu mengkonsumsi makanan lain seperti kue dan camilan lainnya untuk tambahan asupan energi.  Jangan dilupakan untuk minum air yang cukup, sebaiknya untuk orang dewasa 3-4 gelas.

 

Total asupan zat gizi yang dikonsumsi saat puasa Ramadan, akan lebih sedikit dari saat tidak puasa.  Hal ini karena kesempatan untuk mengkonsumsi makanan menjadi lebih sedikit.  Oleh sebab itu makan sahur sangat penting agar defisit asupan zat gizi saat puasa tidak terlalu banyak.

 

Berdasarkan hasil penelitian di beberapa negara, diketahui bahwa dampak dari puasa di bulan Ramadan akan menyebabkan berat badan akan turun, namun penurunan ini hanya terjadi hingga minggu ke 2 berpuasa.  Setelah itu kemudian berat badan akan bertahan hingga lebaran tiba (tidak turun lagi).  Berat badan akan naik lagi saat lebaran.  Hal ini akan di bahas pada tulisan yang akan datang tentang persiapan menghadapi lebaran.

 

Fenomena berat badan turun saat 2 minggu pertama menunjukkan bahwa total asupan energi saat puasa Ramadan memang mengalami defisit dibandingkan dengan saat tidak berpuasa.  Oleh sebab itu penting diperhatikan terutama untuk anak yang sedang tumbuh agar jumlah defisitnya tdk terlalu banyak, agar mengkonsumsi makanan apapun sebelum dan setelah shalat tarawih.  Anak –anak juga harus dibangunkan untuk sahur lebih awal agar kesempatan untuk mengkonsumsi makanan saat sahur menjadi lebih banyak, dengan pola seperti yang telah dituliskan di atas.  Sedangkan berat badan di 2 minggu terakhir Ramadan bertahan, karena tubuh telah beradaptasi dengan kekurangan saat berpuasa sehingga lebih hemat dalam penggunaan energi.

 

Pola aktivitas fisik saat puasa Ramadan yang dianjurkan adalah sebagai berikut: pagi-pagi setelah sahur sebaiknya melakukan senam ringan untuk menjaga fleksibilitas tubuh, dilanjutkan dengan aktivitas harian.  Saat siang hari diperbolehkan untuk tidur siang, namun sekitar jam 2 sampai dengan jam 3 sebaiknya melakukan aktivitas kembali seperti berkebun, pergi ke pasar, mempersiapkan makanan untuk berbuka dan lain-lain.  Olah raga sebaiknya tetap dilakukan untuk menjaga kebugaran, dan dapat dilakukan dari mulai bada ashar hingga menjelang azan maghrib.  Sebaiknya tidak kurang dari 30 menit selama 3-5 kali seminggu.  Jenis olah raganya disesuaikan dengan usia, dari intensitas ringan hingga berat , olah raga aerobik ataupun anaerobik, sebaiknya campuran.  Semakin tinggi intensitas olah raga, maka kebutuhan air semakin banyak, oleh sebab itu bila akan melakukan oleh raga dengan intensitas berat dilakukan saat mendekati waktu berbuka puasa.

 

Pola makan dan aktivitas fisik yang telah dianjurkan dia atas untuk berpuasa di bulan Ramadan, telah disesuaikan dengan perubahan metabolisme tubuh pada saat puasa, sehingga diharapkan meskipun kita berpuasa, aktivitas harian seharusnya tetap berjalan seperti biasa karena tubuh telah memiliki mekanisme adaptasi saat berpuasa.  Selain itu untuk yang mengalami gizi lebih (obesitas, trigliserida dan kolesterol dalam darah tinggi), dengan berpuasa akan menyebabkan berat badan akan turun, demikian pula dengan kadar trigliserida akan turun selama pola makan dan pola aktivitas fisiknya dilakukan dengan baik sesuai anjuran.

 

Demikian, semoga kita dapat menjalankan ibadah puasa dengan bugar dan sehat, terima kasih.

Semoga tulisan sederhana ini dapat bermanfaat bagi para pembaca yang budiman dan bagi yang ingin berkonsultasi lebih jauh mengenai  Gizi Lebih ini dapat menghubungi kami di Poli Klinik Konsultasi Gizi RS Al Islam Bandung yang akan dilayani oleh Dokter Spesialis Gizi Klinik yang berpengalaman di bidangnya, untuk informasi jadwal praktek Poli Klinik Konsultasi Gizi, silahkan anda mengunjungi website www.rsalislam.com atau ke bagian informasi di telp.022-7562046 ext.705 dan bagi warga masyarakat yang memerlukan penyuluhan mengenai Kesehatan Gizi (Gratis) dapat menghubungi bagian PKRS RS Al Islam Bandung pada jam kerja di Telp.022-7562046 ext.822.

 


18/Jun/2019

Bugar dan Sehat di Bulan Ramadan (1)

Dr.Gaga Irawan Nugraha, MGizi., dr., SpGK

Dokter Spesialis Gizi Klinik RS Al Islam Bandung

Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

 

“ Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al Baqarah:183)

 

Puasa di Bulan Ramadan merupakan kewajiban yang harus dijalankan selama 1 bulan penuh untuk kaum muslimin, dengan menahan makan dan minum dari sejak terbit fajar hingga matahari terbenam.

 

Tujuan utama Puasa di bulan Ramadan adalah mencapai ketaqwaan, dan untuk mencapainya diperlukan tubuh yang sehat dan bugar agar kita dapat beraktivitas secara optimal meskipun dalam keadaan berpuasa.  Pada saat tubuh tidak mendapatkan makanan selama 12-14 jam, akan terjadi perubahan metabolisme sebagai mekanisme adaptasi terhadap keadaan tersebut.   Oleh sebab itu pola makan dan aktivitas fisik yang dilakukan harus berdasarkan pada keadaan metabolisme tubuh saat puasa Ramadan.

 

Saat mulai berpuasa sejak terbit fajar, tubuh akan menggunakan gula darah (glukosa) yang berasal dari makanan yang dikonsumsi saat makan sahur.  Gula darah sangat diperlukan oleh otak dan sel darah merah sebagai sumber energi.  Ketika makanan tidak ada yang dikonsumsi karena puasa, perlahan gula darah akan turun.  Untuk mempertahankan kadarnya, tubuh akan memecah cadangan glikogen yang terdapat di organ hati menjadi gula darah, dan proses ini disebut glikogenolisis.  Gula darah yang berasal dari makan sahur dan pemecahan glikogen  dapat dipertahankan kadarnya hingga sekitar jam 1 atau 2 siang.  Setelah itu gula darah kembali menurun, sedangkan glikogen yang tersedia tidak lagi cukup untuk dipecah menjadi glukosa.  Pada saat itulah tubuh akan mengubah zat lain menjadi gula darah, yaitu lemak tubuh (trigliserida) dan protein tubuh yang sebagian besar terdapat pada otot rangka, dan proses ini disebut glukoneogenesis.

 

Dengan adanya proses glukoneogenesis, maka kadar gula darah kembali naik dan bertahan dalam batas normal hingga azan maghrib menjelang.  Pengubahan lemak tubuh menjadi gula darah akan lebih baik dan optimal apabila dirangsang dengan beraktivitas fisik.  Oleh sebab itulah maka sebaiknya setelah jam 1 atau 2 siang saat puasa di bulan Ramadan kita tidak tidur atau kalaupun tidur tidak terlalu lama, karena akan menyebabkan proses glukoneogenesis tidak optimal sehingga gula darah akan makin menurun.  Inilah yang menjadi penjelasan pada orang yang tidur siang saat puasa Ramadan ketika bangun akan terasa sangat lemas karena gula darah kadarnya rendah sekali akibat dari tidak optimalnya proses glukoneogenesis, sebaliknya pada anak-anak yang beraktivitas fisik atau “ngabuburit” malah tetap segar hingga azan magrib karena proses glukonegenesis berjalan optimal dan gula darah kadarnya  dalam kadar yang normal.

 

Pola makan yang dianjurkan saat berbuka adalah sebagai berikut: 1). Berbuka dengan buah-buahan manis berair banyak atau makanan manis tapi tidak terlalu banyak, 2). Minum air, 3). Sholat mahgrib, 4). Makan nasi dan lauk pauknya, 5) Makan makanan lain atau STOP tergantung dari status gizi anda.  Antara berbuka hingga tidur dianjuran minum antar 4-5 gelas untuk orang dewasa.

Untuk Sahur dianjurkan sebagai berikut: 1) Makan nasi dan lauk pauknya, 2). Makan buah berair banyak, 3). Minum Susu untuk yang suka, 4). Makan makanan lainnya. Minum antara 3-4 gelas dari bangun sahur hingga imsyak.  Sedangkan aktivitas fisik yang dianjurkan, sebaiknya melakukan olah raga ringan di pagi hari seperti senam untuk menjaga fleksibilitas, sedangkan olah raga dengan intensitas sedang atau berat dapat dilakukan ba’da sholat ashar hingga azan maghrib menjelang.  Kalaupun tidak melakukan olah raga, setelah jam 1 atau 2 siang dianjurkan tetap melakukan aktivitas fisik harian seperti pekerjaan rumah tangga, atau berkebun, atau berjalan-jalan.

 

Penjelasan dari pola makan dan aktivitas fisik di atas adalah sebagai berikut.  Cara berbuka dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Daud. “Dari Anas bin Malik, ia berkata : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum shalat dengan ruthab (kurma basah),  jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering), dan jika tidak ada tamr, beliau meminum seteguk air.”  Jadi Rasulullah menganjurkan berbuka dengan ruthab (kurma basah), hal ini karena ruthab mengandung fruktosa (gula buah) dan kadar air yang tinggi, selain juga mengandung serat, vitamin dan mineral.

 

Mengkonsumsi ruthab akan menyebabkan kadar gula darah yang rendah setelah berpuasa 12-14 jam akan kembali naik sehingga tubuh kembali bugar, namun kenaikan gula darah ini akan perlahan karena jenis gula pada ruthab sebagian besar adalah fruktosa yang memerlukan proses untuk menjadi gula darah di organ hati, selain itu adanya serat yang tinggi dan kadar air yang banyak juga membuat kenaikan gula darah menjadi lebih perlahan.  Kenaikan gula darah secara perlahan ini penting agar tubuh tidak terkejut dengan gula darah yang dengan cepat meningkat sehingga dapat memicu gula darah turun pula dengan cepat (rebound).  Namun mengingat ruthab di Indonesia sulit diperoleh karena tidak tahan lama, maka dapat digantikan dengan makanan lain yang memiliki karakteristik mirip dengan ruthab yaitu buah-buahan berair banyak dan manis seperti jeruk, semangka, pepaya, melon, belimbing, nanas, anggur, apel, pir.  Apabila itupun tidak tersedia, Rasulullah dalam hadist di atas menggantinya dengan tamr (kurma kering).

 

Tamr adalah kurma yang banyak dijual di Indonesia.  Tamr mengandung kadar glukosa yang tinggi sehingga cepat meningkatkan gula darah.  Oleh sebab itu sebaiknya tamr tidak terlalu banyak dikonsumsi, cukup 3, 5 atau 7 biji saja.  Bila tamr tidak ada dapat diganti dengan minuman manis atau makanan manis lainnya, namun tetap dengan jumlah yang tidak terlalu banyak untuk mencegah naiknya gula darah secara cepat.  Setelah itu dilanjutkan dengan minum air putih untuk mengganti kebutuhan air selama berpuasa, dan dilanjutkan dengan sholat maghrib terlebih dahulu.  Dengan melakukan sholat magrib, maka terdapat jeda waktu antara berbuka dengan ruthab atau tamr atau makanan yang manis dengan makanan utama nasi dan lauk pauknya, sehingga setelah saluran cerna kosong cukup lama, tubuh memiliki cukup waktu untuk menyiapkan enzim-enzim pencernaan sehingga proses pencernaan makanan utama akan menjadi lebih optimal.

 

Nasi dan lauk pauknya sebaiknya dikonsumsi dengan lengkap yang terdiri dari makanan sumber karbohidrat  (dianjurkan nasi untuk di Indonesia), protein hewani (daging, ikan, ayam, telur), protein nabati (tahu, tempe, kacang), dan sayuran.  Makanan 4 sehat ini selain mengandung karbohidrat juga mengandung protein, lemak, vitamin dan mineral yang sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh untuk berpuasa keesokan harinya.  Makanan sumber karbohidrat diperlukan sebagai sumber energi bagi tubuh selain juga untuk mengisi cadangan glikogen di organ hati dan otot yang telah terkuras pada saat berpuasa siang harinya.  Makanan sumber protein diperlukan sebagai sumber asam amino esensial yang bermanfaat untuk menjaga agar metabolisme tubuh dapat berjalan dengan baik.  Sebaiknya terdiri dari makanan sumber protein hewani dan nabati, bukan hanya hewani agar kolesterol tidak terlalu tinggi dan kita masih mendapat tambahan serat dari sumber protein nabati.   Lemak tidak perlu di risaukan karena setiap kita mengkonsumsi bahan makanan sumber protein, pasti mengandung lemak, selain itu dalam proses memasak seringkali menggunakan minyak baik untuk menumis atau menggoreng sehingga makanan sumber lemak tidak akan kurang.  Sayuran sebaiknya selalu tersedia baik dalam keadaan segar (lalapan) ataupun telah diolah sebagai sop.  Sayuran merupakan sumber serat dan mineral.  Serat sangat bermanfaat untuk meningkatkan rasa kenyang, dan melancarkan proses defekasi sehingga menurunkan risiko kanker usus besar selain juga dapat menjadi makanan bagi bakteri bermanfaat di usus besar yang akan membantu meningkatkan imunitas tubuh kita.

 

Setelah mengkonsumsi makanan 4 sehat (nasi dan lauk pauknya) bila akan mengkonsumsi makanan lain, perlu diperhatikan apakah kita termasuk gizi lebih, gizi normal atau gizi kurang.  Untuk yang mengalami gizi lebih, sebaiknya setelah makan 4 sehat tidak mengkonsumsi apapun selain minum air saja.  Sedangkan untuk yang gizi normal, atau kurang, atau anak yang sedang tumbuh sebaiknya mengkonsumsi makanan lainnya seperti kolak, kue atau buah-buahan hingga menjelang  tidur untuk meningkatkan total asupan energi.

 

Tentang Makan sahur dan aktivitas fisik akan dibahas pada tulisan selanjutnya.

Semoga tulisan sederhana ini dapat bermanfaat bagi para pembaca yang budiman dan bagi yang ingin berkonsultasi lebih jauh mengenai  Gizi Lebih ini dapat menghubungi kami di Poli Klinik Konsultasi Gizi RS Al Islam Bandung yang akan dilayani oleh Dokter Spesialis Gizi Klinik yang berpengalaman di bidangnya, untuk informasi jadwal praktek Poli Klinik Konsultasi Gizi, silahkan anda mengunjungi website www.rsalislam.com atau ke bagian informasi di telp.022-7562046 ext.705 dan bagi warga masyarakat yang memerlukan penyuluhan mengenai Kesehatan Gizi (Gratis) dapat menghubungi bagian PKRS RS Al Islam Bandung pada jam kerja di Telp.022-7562046 ext.822.

 


20/Feb/2019

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Sejak tanggal 18 Februari kemarin, insyaallah hingga tanggal 21 Februari nanti RS Al Islam Bandung melaksanakan Survei Simulasi Akreditasi Rumah Sakit SNARS Edisi I. Bekerjasama dengan Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS). Selama empat hari itu, tim surveior yang terdiri dari empat orang yakni:

  1. dr. Nugroho Tjandra Wibisono, Sp.Rad., MM (sebagai ketua tim surveior dan mengelola Tim Medis I);
  2. dr. Elsje Setyawati, Sp.PK., M.Kes (mengelola Tim Medis II);
  3. drg. Tjut Maulina, M.Kes (mengelola Tim Manajemen);
  4. Ns. Kusnanto, S.Kep., MARS (mengelola Tim Keperawatan).

Tim surveior tersebut akan menelaah seluruh dokumen dan meninjau langsung semua bagian pelayanan di RS Al Islam Bandung. Semoga seluruh rangkaian acara ini dapat berjalan dengan lancar, serta memberikan hasil yang sebaik-baiknya.

Aamiiin…


16/Feb/2019

Insiden pasien jatuh merupakan salah satu fokus sasaran keselamatan pasien di rumah sakit. Di Amerika Serikat sekitar 700.000 sampai 1.000.000 orang jatuh di rumah sakit setiap tahunnya. Berdasarkan data dari NRLS (National Reporting and Learning System) tahun 2015/2016, insiden pasien jatuh di Inggris merupakan insiden yang paling sering terjadi di rumah sakit umum dan menduduki peringkat tiga besar insiden di rumah sakit jiwa. Angka kejadian pasien jatuh di Indonesia sendiri belum ada angka pasti, berdasarkan laporan dari kongres XII PERSI tahun 2012 menyatakan bahwa kejadian pasien jatuh termasuk dalam tiga besar insiden medis rumah sakit dan menduduki peringkat kedua setelah medication error yaitu sebesar 14%.(Agency for Healthcare Research and Quality, 2013; NHS, 2017; Dewi and Noprianty, 2018) Data di Rumah Sakit Al Islam Bandung sebagai salah satu rumah sakit swasta di Bandung memperlihatkan ada 9 kasus pasien jatuh pada tahun 2015, turun menjadi 3 kasus pada tahun 2016 kemudian naik kembali menjadi 7 kasus pada tahun 2017. Tahun 2018 tercatat 5 pasien jatuh pada tahun 2018. Kasus jatuh yang terjadi tidak menimbulkan cedera yang serius.

Di Amerika Serikat Sekitar 30-50% dari pasien jatuh di rumah sakit mengalami cedera. Cedera akibat jatuh memerlukan tambahan pengobatan dan menambah lama rawat 6,3 hari. Rata-rata biaya yang dibutuhkan dalam penanganan cedera akibat jatuh tersebut sekitar $14.000. Berdasarkan data dari The Joint Commision, sejak tahun 2009 sentinel even akibat jatuh terdapat sebesar 465 kasus. Insiden pasien jatuh disertai dengan cedera serius termasuk dalam 10 kasus terbanyak dari sentinel even. Tingginya dampak dari insiden pasien jatuh menuntut rumah sakit, perawat, dan profesi pemberi asuhan kesehatan lain untuk membuat program pencegahan cedera akibat jatuh yang efektif dalam mencegah insiden pasien jatuh di rumah sakit.(The Joint Commission, 2015; Chu, 2017)

Pencegahan insiden jatuh memerlukan pendekatan asuhan secara interdisiplin. Beberapa bagian dari program pencegahan jatuh merupakan tindakan rutin, tetapi beberapa aspek lain merupakan penanganan yang spesifik dan berbeda untuk setiap pasien. Pencegahan jatuh membutuhkan keterlibatan banyak orang termasuk semua profesi pemberi asuhan dan keluarga pasien. Untuk meningkatkan koordinasi semua pihak, dibutuhkan budaya organisasi dan standar operasional dalam kerjasama tim dan komunikasi, serta kompetensi individual. Program pencegahan jatuh harus memperhatikan keseimbangan dengan faktor lain, seperti meminimalkan restrain dan mempertahankan mobilitas pasien untuk memberikan asuhan terbaik. Peningkatan pencegahan insiden jatuh harus berfokus pada sistem yang perlu diubah.(Agency for Healthcare Research and Quality, 2013)

Rumah Sakit Al Islam Bandung sebagai rumah sakit dengan badan hukum Yayasan RSI KSWI Jawa Barat selalu berkomitmen untuk terus menerus meningkatkan mutu layanan dan keselamatan pasien. Pencegahan pasien jatuh merupakan komitmen dari Rumah Sakit Al Islam Bandung, sebagaimana tertuang dalam peraturan direktur nomor 1874/RSAI/PER/DIR/IV/2018, serta membuat panduan pencegahan pasien jatuh yang dimulai dengan melakukan identifikasi risiko jatuh pasien, memberikan fasilitas pendukung, melakukan upaya penanggulangan, membuat laporan insiden pasien jatuh, evaluasi insiden pasien jatuh sampai upaya perbaikan yang secara terus-menerus dilakukan.(Amalia, Amalia and Andayani, 2018)

Indikator proses observasi dari kepatuhan penanganan pasien risiko jatuh diambil sebagai upaya lanjutan pencegahan pasien jatuh, untuk melihat apakah upaya pencegahan sesuai dengan protokol pencegahan pasien jatuh. Melakukan pendataan jumlah pasien yang jatuh dan tindak lanjutnya merupakan upaya awal dalam mencegah insiden pasien jatuh.

Pencapaian kepatuhan pencegahan risiko cedera akibat jatuh masih sedikit dibawah standar. Capaian pada tahun 2018 rata-rata sebesar 96,58%. Angka kepatuhan pencegahan risiko cedera akibat pasien jatuh di RS Al Islam Bandung apabila dibandingkan dengan data dari rumah sakit lain memperlihatkan hasil capaian yang cukup baik dan rumah sakit pembanding memperlihatkan angka kepatuhan yang juga belum mencapai standar (lihat tabel 1). Program pencegahan risiko cedera akibat jatuh sudah dilakukan di RS Al Islam sejak tahun 2016. Pencapaian kepatuhan pencegahan risiko jatuh tahun 2016 dan 2017 sudah di atas target yaitu lebih dari 95%. Mengevaluasi hasil capaian tersebut, maka komite peningkatan mutu dan keselamatan pasien (PMKP) bersama-sama dengan unit pelayanan meningkatkan standar kepatuhan pencegahan risiko cedera akibat jatuh menjadi 100% untuk tahun 2018.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 129/Menkes/SK/II/2008 tentang standar pelayanan minimal (SPM) rumah sakit, untuk rawat inap diantaranya adalah tidak adanya kejadian pasien jatuh yang berakibat kecacatan/kematian harus 100%, sedangkan kepatuhan pencegahan risiko cedera akibat jatuh secara umum belum ada peraturan yang menjelaskannya baik konsensus nasional maupun konsensus profesi sehingga standar ditetapkan secara konsensus pada tahun pertama dan dapat disesuaikan dengan tren naik atau turun. (Kemenkes RI, 2008; Luwiharsih, 2018). Sejak tahun 2016 sampai saat ini, tidak ada pasien yang sampai meninggal atau cacat karena jatuh di RS Al Islam Bandung.

Untuk capaian setiap bulan memperlihatkan tren di atas 95% (Lihat tabel 2) kecuali pada bulan September dan Oktober. Terjadi penurunan kepatuhan di bulan September 2018 yang disebabkan karena:

  1. Secara tidak langsung ada perubahan dalam pendokumentasian upaya pencegahan jatuh secara manual menjadi e-medrek, sehingga mempengaruhi kinerja karena ada hal baru yang belum terbiasa dilakukan.
  2. Belum optimalnya supervisi terhadap kepatuhan staf.
  3. Dimasukannya satu poin yaitu adanya asesmen jatuh di rawat jalan dan IGD sebagian bentuk upaya pencegahan jatuh

Adanya perubahan metode pengumpulan data ke e-medrek merupakan tuntutan dari akreditasi rumah sakit di Indonesia oleh Komite Akreditasi Rumah Sakit untuk memudahkan Komite PMKP. Perubahan sistem pencatatan dari manual ke elektronik mensyaratkan validasi data untuk memastikan pengambilan data yang baru tetap konsisten dan reproducible. Hasil validasi memperlihatkan hasil 84% yang artinya proses pengumpulan data dapat dilakukan dengan e-medrek. Selain perubahan sistem pencatatan, data yang akan dipublikasi ke masyarakat juga harus dilakukan validasi.(Luwiharsih, 2018)

Rencana tindak lanjut dari pencapaian kepatuhan pencegahan risiko cedera akibat jatuh yang belum mencapai standar pada tahun 2018 di Rumah Sakit Al Islam Bandung adalah:

  1. Data kejadian jatuh dan data pencapaian kesesuaian penanganan pasien jatuh akan menjadi data dasar dalam rencana tindak lanjut untuk mencegah pasien jatuh saat dirawat di RS Al Islam.
  2. Optimalisasi fungsi monitoring dan evaluasi oleh supervisor dalam penanganan pasien risiko jatuh.
  3. Kampanye pencegahan risiko jatuh secara terus menerus kepada staf

Cukup banyak tenaga, pikiran, dan waktu yang dihabiskan untuk dapat tetap berkomitmen dalam menjaga keselamatan pasien khususnya untuk mencegah risiko cedera akibat jatuh pada pasien-pasien yang di rawat di RS Al Islam Bandung. Empat tahun terakhir rumah sakit berusaha membentuk sistem pencegahan insiden jatuh disemua faktor yang mempengaruhi, tetapi langkah berikutnya yang jauh lebih sulit adalah terus mempertahankan sistem yang telah berjalan cukup baik secara terus menerus untuk menjaga kualitas pelayanan Rumah Sakit Al Islam Bandung sesuai dengan visinya yaitu “Menjadi Rumah Sakit yang Unggul, Terpercaya dan Islami dalam Pelayanan dan Pendidikan”.

 

Daftar Referensi

Agency for Healthcare Research and Quality (2013) Preventing Falls in Hospitals A Toolkit for Improving Quality of Care. Boston.

Amalia, Amalia, N. and Andayani, Y. (2018) Panduan Pencegahan Pasien Jatuh RS Al Islam Bandung. Bandung.

Chu, B. R. Z. (2017) ‘Preventing in-patient falls : The nurse ’ s pivotal role’, Nursing, 47(3).

Dewi, T. and Noprianty, R. (2018) ‘PHENOMENOLOGI STUDY: RISK FACTORS RELATED TO FAAL INCIDENCE IN HOSPITALICED PEDIATRIC PATIENT WITH THEORY FAYE G. ABDELLAH’, NurseLine Journal, 3(2), pp. 6–7.

Kemenkes RI (2008) Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 129/Menkes/SK/II/2008 tentang standar pelayanan minimal (SPM) rumah sakit.

Luwiharsih (2018) Pemilihan dan Pengumpulan Data (dalam WS PMKP). Semarang.

NHS (2017) The incidence and costs of inpatient falls in hospitals.

The Joint Commission (2015) ‘Preventing falls and fall-related injuries in health care facilities’, Sentinel Event Alert, (55).


15/Mei/2018

Dalam rangkaian Milad dan Syiar Islam RS Al Islam Bandung, panitia mengadakan kegiatan Bazar Ramadhan yang akan berlangsung pada hari Rabu dan Kamis, 30-31 Mei 2018.
.
Bagi yg berminat menyewa stand Bazar..silahkan menghubungi :
.
Hadi : 0813 9511 9977
.
Kiki : 0813 2071 3052
.
Bunda : 0813 1200 0075
.
Ayooo yang mempunyai bakat berdagang ikutan yuu Bazar Ramadhan RSAI…lumayan..buat tambah” THR..😁


LOGO-PUTIH-compress

About Us :
RS Al Islam Bandung adalah Rumah Sakit milik Yayasan RSI KSWI Jawa Barat yang mempunyai visi "Menjadi Rumah Sakit Yang Unggul, Terpercaya dan Islami dalam Pelayanan dan Pendidikan"

RS Al Islam Bandung
Jl. Soekarno Hatta No. 644
Tel. (022) 7565588
Email : cs@rsalislam.com

Recent Posts

Sertifikat

paripurna-2022-2026-4-11zon

Sertifikat Paripurna

Copyright by RS Al Islam Bandung 2021. All rights reserved.

icon

Jadwal Dokter

Info Jadwal Dokter Terbaru

icon

Customer Care

Sampaikan apa saja sama kami

icon

Daftar Online

Jadwalkan Rencana Kunjungan Anda

Tanya RSAI