19/Nov/2018

Stroke merupakan suatu kondisi gangguan fungsi otak yang timbul mendadak akibat tersumbatnya aliran darah ke otak atau pecahnya pembuluh darah ke otak, yang berlangsung lebih dari 24jam, atau menimbulkan kematian. Secara umum stroke dibagi menjadi:

  • Stroke infark (85%): terjadi akibat berkurangnya aliran darah ke salah satu bagian otak. terdiri dari infark aterotrombotik (80%) dan infark emboli (20%).
  • Stroke pendarahan (15%): Terjadi akibat pecahnya pembuluh darah

Stroke merupakan penyebab kematian kedua terbanyak di seluruh dunia dan keempat di Amerika Serikat. Di Indonesia, stroke menempati peringkat pertama (15,4%) sebagai penyebab kematian (Riset Kesehatan Dasar/Riskesdas 2007). Di masyarakat urban (Jakarta) diperkirakan prevalensinya 0,5%, sedangkan di daerah rural (perdesaan Tasikmalaya) insidensi sekitar 500 per 100.000 penduduk. Stroke merupakan penyebab kecacatan pertama di dunia.

Stroke juga penyebab keempat tersering dari hilangnya produktivitas dan pada disability-adjusted life years (DALYs) di seluruh dunia, disamping HIV-AIDS, depresi unipolar dan penyakit jantung. Desease burden (beban penyakit) biasanya diukur dalam DALYs. Satu DALYs adalah satu tahun kehilangan hidup sehat. The burden of disease didefinisikan sebagai kesenjangan antara kesehatan umum suatu populasi pada situasi yang ideal, yaitu setiap orang pada populasi hidup sampai usia tua dengan sehat. Meskipun insiden stroke tinggi pada orang yang sudah tua karena peningkatan umur panjang dari survivor stroke yang usia muda 2/3 dari beban stroke di seluruh dunia terjadi pada usia di bawah 70 tahun.

 

Tren di Masa Depan

Epidemiologist sudah mengingatkan adanya epidemi stroke pada 25 tahun ke depan. Peningkatan jumlah pasien stroke juga disebabkan kontrol yang tidak adekuat dari faktor risiko stroke.

Meskipun upaya pencegahan primer stroke dan penyakit jantung akan menolong, namun secara paradoks akan membuat hal yang lebih rumit. Pasien yang diobati dengan antitrombotik untuk pencegahan stroke dapat menderita stroke perdarahan yang lebih berat, dan pasien yang dicegah dari kematian karena serangan jantung,  dapat bertahan hidup dan menjadi memiliki resiko terkena stroke, karena stroke meningkat dengan bertambahnya usia. Situasinya akan lebih menyeramkan bila melihat projeksi di seluruh dunia. Insidensi dan kematian karena stroke akan meningkat lebih cepat pada negara berpenghasilan rendah dan sedang, karena peningkatan prevalensi factor resiko penyakit jantung, urbanisasi dan perubahan pola makanan. Tanpa adanya intervensi pada populasi yang luas, maka diperkirakan pada tahun 2030 terdapat 23 juta kasus stroke baru, 77 juta survivor stroke, dan 7,8 juta meninggal dunia.

 

Faktor Resiko

Pencegahan adalah metode yang paling efektif dalam menurunkan beban stroke secara sosial.

Faktor resiko terdiri dari :

  • Faktor resiko non-modifiable (tidak dapat diubah) : Umur, seks, ras, dan herediter (keturunan).
  • Faktor resiko modifiable (dapat diubah) : hipertensi, atrial fibrilasi, DM, dyslipidemia, penyakit arteri karotis, merokok, alcoholism, inaktiitas fisik, obesitas, narkoba.

Pada tahun 2009 suatu penelitian terstandar case control INTERSTROKE menghasilkan informasi penting tentang factor resiko stroke diberbagai negara, baik negara berpenghasilan rendah maupun sedang. Penelitian ini menunjukkan 5 faktor resiko bertanggung jawab >80% resiko global stroke : hipertensi, merokok, kegemukan, makanan dan aktifitas fisik. Sebagai tambahan 5 faktor resiko meningkatkan faktor resiko stroke sampai 90% : konsumsi alkohol yang banyak, dyslipidemia/ kadar lemak yang tinggi (diukur dengan ratio apolipoprotein B ke A1), gangguan jantung (Atrial fibrilasi atau flutter, Miokard Infark sebelumnya, penyakit rematik katup jantung , dan katup jantung buatan), dan stress psikososial /depresi. Hal yang penting adalah, banyak dari faktor resiko ini dapat dikendalikan.

 

Hipertensi

Pada penelitian INTERSTROKE, partisipan yang memiliki hpertensi dengan tekanan darah >160/90 mmHg memiliki resiko 2,8 kali lebih besar mendapat stroke daripada yang tidak memiliki hipertensi. Kontrol tekanan darah berhubungan secara signifikan dengan penurunan resiko stroke. Suatu trial klinis meta analisis yang besar memperlihatkan penurunan stroke 41% bila tekanan darah menurun 10mmHg pada sistolik atau 5 mmHg pada diastolic dibandingkan dengan tekanan darah sebelum pengobatan.

Resiko stroke secara kontinyu berhubungan dengan tekanan darah sampai mencapai 115/75. Subjek dengan tekanan darah <120/80 mmHg memiliki setengah dari resiko stroke subjek dengan hipertensi. Guidline untuk pencegahan primer stroke merekomendasikan pengobatan tekanan darah sampai dibawah 140/80 mmHg, dan untuk pasien dengan Diabettes mellitus atau pasien dengan penyakit ginjal target tekanan darah dibawah 130/80 mmHg.

(bersambung…)

 

 


22/Mar/2018

dr. Ikbal Gentar Alam, Sp.GK

Wellness, Health, and Physical Fitness

 

 

 

Wellness kata yang sering kita dengar saat ini, Wellness merupakan kondisi sehat paripurna yang menggambarkan fungsi tubuh yang optimal, kualitas hidup yang baik, pekerjaan yang menyenangkan, dan berperan dalam kehidupan sosial sehingga saat ini merupakan target pencapaian bagi banyak orang. Hubungan antara sehat (health), wellness, kebugaran (physical fitness), dan faktor faktor yang mempengaruhi dapat dilihat dari bagan berikut:

Health atau sehat berdasarkan definisi WHO adalah kondisi sejahtera fisik, mental, dan sosial. Sehat sering dibedakan lagi menjadi sehat statis dan sehat dinamis. Sehat dinamis artinya seseorang dapat melakukan semua beban kerjanya tanpa menyisakan kelelahan pada keesokan harinya sehingga seseorang dapat menyelesaikan beban kerjanya dengan baik. Wellness sering dikatakan sebagai tingkat tertinggi dari sehat. Seseorang dikatakan mempunyai wellness yang baik apabila mampu menyelesaikan semua beban kerjanya dengan baik, mampu memanajemen stres dengan baik, mempunyai sikap mental yang positif, dan terlibat aktif secara sosial dalam lingkungannya. Seseorang dengan tingkat wellness yang baik dapat dikatakan mempunyai kualitas hidup yang baik pula.

Seseorang dapat meningkatkan derajat wellnessnya dengan melakukan pola hidup sehat yang didukung oleh faktor lingkungannya dan layanan medis yang baik. Faktor herediter merupakan faktor yang tidak dapat dimodifikasi tetapi dapat menjadi pertimbangan dalam melakukan pola hidup sehat.

Semua orang akan mendapat manfaat dengan meningkatkan wellness bahkan orang dengan penyakit dapat meningkatkan wellness dan kualitas hidup. Orang yang berfikiran positif akan lebih mampu menghadapi perjalanan penyakit dibanding yang berfikiran negatif. Seseorang dengan penyakit fisik tetapi mempunyai tingkat wellness yang baik akan mempunyai status kesehatan secara keseluruhan yang lebih baik daripada orang tanpa penyakit fisik tetapi mempunyai wellness yang buruk.

Klinik Gizi RS Al Islam Bandung siap membantu Anda dalam meningkatkan status wellness dan mencapai kualitas hidup yang lebih baik.


03/Mar/2018

PERAWATAN PENYAKIT HEPATITIS DI RUMAH

 

PENGERTIAN

Hepatitis adalah infeksi sistemik oleh virus disertai nekrosis (kematian jaringan) dan peradangan pada sel-sel hati yang menghasilkan kumpulan perubahan klinis, biokimia dan seluler yang khas.

 

KLASIFIKASI HEPATITIS

Klasifikasi penyakit berdasarkan penyebabnya, yaitu :

  1. Hepatitis A disebabkan oleh virus hepatitis A
  2. Hepatitis B disebabkan oleh virus hepatitis B
  3. Hepatitis C disebabkan oleh virus hepatitis C
  4. Hepatitis D disebabkan oleh virus hepatitis D
  5. Hepatitis E disebabkan oleh virus hepatitis E
  6. Hepatitis G disebabkan oleh virus hepatitis G

Klasifikasi penyakit hepatitis berdasarkan lama waktu penyakit :

  • Hepatitis virus akut : peradangan hati karena infeksi oleh salah satu dari keenam virus (A,B,C,D,E & G). Peradangan muncul secara tiba-tibadan berlangsung hanya selama beberapa minggu.
  • Hepatitis virus kronik : peradangan berlangsung selama minimal 6 bulan. Hepatitis kronik lebih jarang ditemukan, tetapi menetap samapi bertahun-tahun bahkan berpuluhtahun.

Dari keenam penyakit hepatitis ini yang terbanyak adalah hepatitis A dan B.

 

HEPATITIS A

Tanda dan Gejala :

Dapat terjadi dengan atau tanpa gejala. Gejala mirip sakit flu.

  • Fase pra ikterik : sakit kepala, merasa tidak badan, mual, muntah, penurunan nafsu makan, demam.
  • Fase ikterik : urine berwarna hitam, gejala ikterus/kuning pada sklera dan kulit, nyeri tekan pada hati.

Cara Penularan :

Hepatitis A menural melalui rute fekal oral.

Penularan infeksi : melalui makanan, alat-alat dan air yang terkontaminasi virus hepatitis.

Faktor pendukung terjadinya hepatitis A :

  • Higiene yang kurang.
  • Sanitasi lingkungan yang buruk.

Pencegahan :

  • Melakukan vaksinasi Hepatisi A
  • Menganjurkan keluarga untuk memelihara kebersihan perorangan yang baik dengan menekankan kebiasaan mencuci tangna dengan cermat (setelah BAB, sebelum makan)
  • Sanitasi lingkungan, mekanan dan suplai air yang aman serta pembuangan limbah yang baik.

Pengobatan :

Jika terjadi hepatisi akut yang berat, maka penderita dirawat di rumah sakit, tetapi biasanya hepatitis A tidka memerlukan pengobatan khusus. Setelah beberapa hari, nafsu makan kembali muncul dan penderita tidak perlumenjalani tirah baring. Makanan dan kegiatan penderita tidak perlu dibatasi dan tidak diperlukan tambahan vitamin. Sebagian besar penderita bisa kembali bekerja setelah kuning menghilang, meskipun hasil pemeriksaan fungsi hati belum sepenuhnya normal.

 

HEPATITIS B

Tanda dan Gejala :

Terkadang tidak muncul atau muncul tiba-tiba. Gejala mirip sperti flu, demam, kuning, urin berwarna hitam, feses berwarna kemerahan dan pembengkakan pada hati.

Cara Penularan :

Hepatitis B menular melalui parenteral, seperti tranfusi, suntikan yang digunakan bergantian pada pemakaian obat-obat terlarang ataupun bayi dari ibu yang menderita hepatitis B

Pencegahan :

Perlindungan terbaik adalah vaksinasi hepatitis B.

  • Jangan berganti-ganti pasangan.
  • Jangan mendonorkan darah bila mempunyai penyakit hepatitis B.
  • Lakukan pemeriksaan darah virus hepatitis B pada wanita hamil sehingga calon bayi dapat diberikan hepatitis B imunoglobulin dan vaksinasi 12 jam setelah lahir

Pengobatan : Pengobatan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

 

PERAWATAN SESUDAH PERAWATAN DI RUMAH SAKIT

Pemenuhan Nutrisi :

  1. Ajarkan dan bantu klien untuk istirahat sebelum makan.
  2. Awasi pemasukan diet/jumlah kalori, tawarkan makan sedikit tapi sering dan tawarkan pagi paling sering.
  3. Pertahankan kebersihan mulut yang baik sebelum makan dan sesudah makan.
  4. Anjurkan makan pada posisi duduk tegak.
  5. Berikan diet tinggi kalori, rendah lemak

Penanganan Nyeri :

  1. Pilih metoda yang sesuai dengan perubahan rasa nyeri diharapkan lebih efektif mengurangi nyeri.
  2. Dengarkan dengan penuh perhatian ungkapan klien tentang nyerinya.
  3. Berikan informasi tentang nyeri (Jelaskan penyebab nyeri dan Tunjukkan berapa lama nyeri akan berakhir, bila diketahui).
  4. Penggunaan anti nyeri sesuai resep dokter bila nyeri sudah tak bisa dibatasi dengan teknik untuk mengurangi nyeri

Panas Badan :

  1. Pantau suhu badan.
  2. Ajarkan klien pentingnya mempertahankan cairan yang adekuat (sedikitnya 2000 l/hari) untuk mencegah dehidrasi, misal sari buah 2,5 – 3 liter/hari.
  3. Memberikan kompres hangat pada lipatan ketiak dan paha.
  4. Anjurkan klien untuk memakai pakaian yang menyerap keringat kenyamanan klien, mencegah timbulnya ruam kulit.

Keletihan :

  1. Jelaskan sebab-sebab keletihan individu.
  2. Sarankan klien untuk tirah baring.
  3. Bantu individu dapat memprioritaskan kegiatan-kegiatan yang sangat penting dan meminimalkan pengeluaran energi yntuk kegiatan kurang penting.
  4. Keletihan dapat segera diminimalkan dengan mengurangi kegiatan yang dapat menimbulkan keletihan.
  5. Bantu untuk belajar tentang keterampilan koping yang efektif (bersikap asertif, teknik relaksasi) untuk mengurangi keletihan baik fisik maupun psikologis.

Pruritus sekunder terhadap akumulasi pigmen bilirubin dalam garam empedu :

  1. Pertahankan kebersihan tanpa menyebabkan kulit kering (Sering mandi dengan menggunakan air dingin dan sabun ringan (kadtril, lanolin).
  2. Keringkan kulit, jaringan digosok untuk meningkatkan sensitifitas kulit dengan merangsang ujung syaraf.
  3. Cegah penghangatan yang berlebihan dengan pertahankan suhu ruangan dingin dan kelembaban rendah, hindari pakaian terlalu tebal.
  4. Anjurkan tidak menggaruk, instuksikan klien untk memberikan tekanan kuata pada area pruritus untuk tujuan menggaruk.
  5. Pertahankan kelembaban ruangan pada 30%-40% dan dingin.

Sesak napas :

  1. Awasi frekuensi, kedalaman dan upaya pernafasan.
  2. Posisikan pasien setengah duduk.
  3. Berikan latihan nafas dalam dan batuk efektif.
  4. Berikan oksigen sesuai kebutuhan.

Pencegahan penularan :

  1. Gunakan sarung tangan untuk kontak dengan darah dan cairan tubuh.
  2. Gunakan teknik pembuangan sampah infeksius, linen dan cairan tubuh dengan tepat untuk membersihkan peralatan-peralatan dan permukaan yang terkontaminasi.
  3. Rujuk ke petugas pengontrol infeksi untuk mengidentifikasikan sumber pemajanan dan kemungkinan orang lain terinfeksi.

 


Terima kasih, Asuhan Keperawatan – RS Al Islam Bandung


Rumah Sakit Al Islam Bandung Sahabat Anda Menuju Sehat Bermanfaat


 

 


LOGO-PUTIH-compress

About Us :
RS Al Islam Bandung adalah Rumah Sakit milik Yayasan RSI KSWI Jawa Barat yang mempunyai visi "Menjadi Rumah Sakit Yang Unggul, Terpercaya dan Islami dalam Pelayanan dan Pendidikan"

RS Al Islam Bandung
Jl. Soekarno Hatta No. 644
Tel. (022) 7565588
Email : cs@rsalislam.com

Recent Posts

Sertifikat

paripurna-2022-2026-4-11zon

Sertifikat Paripurna

Copyright by RS Al Islam Bandung 2021. All rights reserved.

icon

Jadwal Dokter

Info Jadwal Dokter Terbaru

icon

Customer Care

Sampaikan apa saja sama kami

icon

Daftar Online

Jadwalkan Rencana Kunjungan Anda

Tanya RSAI