24/Des/2018

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Masalah kesehatan gigi dan mulut mempunyai pengaruh terhadap proses tumbuh kembang dan masa depan derajat kesehatan setiap individu. Individu yg kurang atau tidak peduli terhadap kesehatan gigi geligi dapat  mengalami berbagai macam keluhan yang lambat laun dapat berpengaruh terhadap kesehatan tubuh secara umum. Salah satu penyebab munculnya masalah kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat yaitu perilaku yang mengabaikan pentingnya kebersihan rongga mulut dan gigi.

Sebelum membahas fungsi gigi geligi, mari kita simak terlabih dahulu bagaimana periode pertumbuhan gigi. Dalam pertumbuhan gigi geligi, terdapat 3 periode utama pergantian gigi, yakni :

  • Periode pertumbuhan gigi anak atau gigi sulung atau gigi susu ( Deciduous Teeth ) yang dimulai sejak usia 6 bulan sampai dengan 7 tahun.
  • Periode gigi campuran ( Mix Dentition ) yang dimulai sejak usia 7 tahun sampai dengan usia 12 tahun. Dimana kondisi normal gigi susu mulai goyang hingga copot sendiri karena desakan gigi tetap pengganti dibawahnya, namum didalam kondisi tidak normal, gigi susu harus segera dicabut bila gigi tetap pengganti keluar/erupsi tidak pada tempatnya, guna menghindari susunan gigi yang tidak rata.
  • Periode gigi tetap atau gigi dewasa ( Permanent Teeth) yang dimulai saat usia 12 tahun keatas semua gigi sulung akan digantikan gigi tetap tapi ada kalanya individu tertentu di usia ini masih ditemukan gigi susu yg belum copot.

 

Jumlah Gigi

Jumlah gigi pada orang dewasa memiliki jumlah 32 gigi yang tersebar di rahang atas dan rahang bawah, untuk Rahang Atas terdiri dari 6 gigi atas depan atau anterior dengan rincian  gigi seri 1, gigi seri 2 dan gigi taring kanan & kiri , 4 gigi premolar atau geraham kecil  yang terdiri dari  2 gigi premolar kanan dan 2 gigi premolar kiri  seta 6 gigi geraham yang terdiri dari 3 gigi geraham kanan & 3 gigi geraham kiri.

Rahang bawah terdiri dari 6 gigi bawah depan atau anterior dengan rincian, gigi seri 1, gigi seri 2 dan gigi taring kanan & kiri, di rahang bawah juga terdapat 4 gigi premolar atau geraham kecil dengan rincian, 2 gigi premolar kanan & 2 gigi premolar kiri lalu terdapat pula 6 gigi geraham dengan rincian, 3 gigi geraham kanan & 3 gigi geraham kiri,  terkadang individu tertentu mendapatkan jumlah gigi tetap hanya 28 atau 30 gigi hal ini bisa terjadi dikarenakan memang tidak ada benih gigi bungsu atau ada gigi bungsu tapi posisi terpendam atau miring.

Sedangkan untuk Jumlah gigi anak atau gigi susu adalah 20 gigi, Rahang Atas terdiri 6 gigi atas depan atau anterior dengan rincian  gigi seri susu 1, gigi seri susu 2 dan gigi taring susu kanan & kiri , di rahang atas juga terdapat 4 gigi geraham susu dengan rincian 2 gigi geraham susu kanan &  2 gigi geraham susu kiri sedangkan pada Rahang Bawah terdiri 6 gigi bawah depan atau anterior dengan rincian gigi seri susu 1, gigi seri susu 2 dan gigi taring susu kanan & kiri  di rahang bawah juga terdapat 4 gigi geraham susu dengan rincian 2 gigi geraham susu  kanan & 2 kiri).

Fungsi Gigi Geligi  

Gigi geligi mempunyai fungsi sebagai berikut : Fungsi Mastikasi (Pengunyahan), Fungsi Estetik (Penampilan), Fungsi Fonetik (Bicara), Fungsi Identifikasi, Menahan posisi gigi asli yg masih sehat tidak bergeser kearah yang ompong, Menghindari gangguan sendi temporo mandibular, Mencapai keseimbangan pengunyahan dan menahan jaringan lunak  agar otot wajah tetap sehat.

Jenis  Penyakit/Kelainan Pada Gigi

Dalam perjalanannya, gigi dapat mengalami kerusakan. Mulai dari kerusakan kecil, hingga kerusakan luas, diawali  dengan lubang kecil (karies), sedang, besar hingga tertinggal sisa akar. Selama proses kerusakan gigi yang lama tentu  dilalui fase rasa sakit ringan hingga berat. Berikut ini adalah jenis-jenis kelainan atau penyakit pada Gigi dan Mulut :

  • Karies / lubang gigi, dikarenakan aktifitas bakteri yg merusak struktur gigi.
  • Radang Gusi / Gingivitis / Gusi bengkak, hal ini bisa terjadi dikarenakan kondisi mulut tidak terjaga kebersihannya sehingga terjadi penumpukan karang gigi / plak menempel ditepi gusi / leher gigi, keadaan ini memudahkan terjadi perdarahan gusi karena iritasi karang gigi terhadap tepi gusi. Kondisi akan semakin parah bila tidak segera ditangani dengan benar sehingga bisa berlanjut menjadi jenis penyakit lain.
  • Gigi Hipersensitif, kelainan gigi biasa dirasakan “ngilu/linu” saat terkena rangsang dingin. Keluhan ini dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu secara alami atau bawaan saat pembentukan lapisan gigi, terbiasa makan minum yang dingin, pemutihan gigi, penumpukan plak, menggosok gigi dengan pasta gigi bersifat abrasive, Menggosok gigi dengan sikat gigi jenis bulu sikat keras/hard, Menggosok gigi dengan tekanan berlebih dan faktor usia lanjut.
  • Abses Gusi atau Gusi bengkak, hal ini dapat terjadi dikarenakan adanya infeksi pada gusi yang disebabkan oleh aktifitas bakteri yang berkembang biak sehingga gusi tampak bengkak dan bernanah yang penampakanya seperti cairan kental berwarna kuning/putih/kuning kecoklatan. Muncul nanah
  • Radang Pulpa Gigi atau Pulpitis, merupakan perluasan lubang gigi yg dibiarkan terlalu lama sehingga meluas ke daerah pulpa yang akhirnya menimbulkan rasa sakit yang cukup hebat.
  • Tumor Pada Gusi, Tumor merupakan pertumbuhan sel yang berkembang secara abnormal, tumor dapat tumbuh dijaringan mana saja termasuk mengenai organ mulut terutama bagian mukosa atau jaringan lunak seperti bibir, gusi, lidah dan langit-langit, kurang menjaga kesehatan rongga mulut dan gigi, faktor kebiasaan buruk, faktor turunan atau genetik, trauma atau benturan yang mengenai jaringan sekitar rongga mulut bisa menyebabkan tumor ganas atau tumor jinak.
  • Stomatitis atau Sariawan, Kelainan ini dapat dikarenakan kekurangan Vit.C, keadaan psikologis/stress, iritasi dari sisa akar gigi, mahkota gigi / tambalan tajam/kasar. (bersambung…)

17/Des/2018

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Perang dunia II (PD II) yang merenggut begitu banyak nyawa telah lama usai, namun sesungguhnya peperangan yang dihadapi manusia belum benar-benar berakhir. Salah satunya adalah perang melawan penyakit yang juga meminta banyak korban, jauh lebih banyak dibanding korban PD II.

Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah musuh terbesar yang kita hadapi saat ini. PJK mampu menyusup perlahan-lahan (kronik) dan menyerang secara halus yang membuatnya sulit terdeteksi pada fase awal dan seringkali diabaikan. Baru disadari setelah menyusup jauh dan menimbulkan kerusakan pada organ penting tubuh kita. PJK juga dapat menyerang secara mendadak dan cepat (akut) dengan serangan yang hebat dan mematikan. Kemampuannya ini menjadikan PJK sebagai penyakit yang sangat ditakuti dan menempatkannya pada urutan pertama penyebab kematian terbanyak di dunia.

Orang dengan hipertensi, diabetes, kadar kolesterol tinggi (dislipidemia) atau merokok mempunyai risiko lebih tinggi untuk terkena PJK. Kebanyakan orang sadar bahwa hipertensi, diabetes dan dislipidemia adalah masalah kesehatan sehingga mereka berusaha mengontrolnya. Namun sayangnya masih banyak yang tidak menganggap merokok sebagai masalah kesehatan, padahal seorang perokok berisiko terkena PJK 3 kali lipat dibanding bukan perokok.

Seseorang yang mengalami serangan jantung biasanya mengeluh nyeri dada di bagian tengah atau kiri seperti ditindih benda berat, ditekan atau rasa terbakar dan kadang menjalar ke punggung, leher, rahang atau lengan kiri. Lama nyeri berkisar antara 5 sampai 10 menit dan hilang timbul. Pada kondisi yang lebih berat, nyeri dada dapat lebih dari 20 menit dan sering disertai badan terasa lemas dan berkeringat banyak.

Nyeri dada tidak selalu disebabkan oleh kelainan jantung. Nyeri dada seperti ditusuk-tusuk, dicubit, disayat-sayat biasanya bukan karena kelainan jantung.  Nyeri dada yang dicetuskan oleh menarik nafas dalam atau pergerakan otot dada atau lama nyeri dada sangat sebentar (hitungan detik) atau sangat lama (beberapa jam atau bahkan hari terus menerus) merupakan tanda bahwa nyeri dada tersebut bukan dari kelainan jantung.

Diagnosis PJK seringkali sulit dan memerlukan berbagai pemeriksaan penunjang seperti elektrokardiografi (EKG/rekam jantung), Ekokardiografi (USG jantung), Treadmill exercise test, sidik perfusi miokardium dengan nuklir, CT-scan koroner dan lain sebagainya. Untuk saat ini, yang menjadi gold standard untuk diagnosis pasti PJK adalah angiografi koroner.

Angiografi koroner atau banyak dikenal dengan istilah kateterisasi jantung, merupakan prosedur pemeriksaan yang bersifat invasif dan dilakukan di dalam ruangan khusus yang disebut laboratorium kateterisasi atau cathlab. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara memasukkan selang kateter berukuran kecil dan lentur ke dalam pembuluh arteri di tangan atau pangkal paha sampai ke arteri koroner di jantung. Kemudian disuntikkan cairan kontras ke dalam arteri koroner dan difoto dengan alat rontgen sehingga anatomi arteri koroner tampak pada layar monitor.

Karena sifatnya yang invasif dan tentu saja dengan biaya yang cukup mahal, tidak semua pasien PJK harus dikirim ke cathlab untuk angiografi koroner. Semua pasien PJK harus dilakukan klasifikasi tingkat risiko berdasarkan pemeriksaan non-invasif seperti treadmill test, ekokardiografi dan lain-lain yang telah disebut di atas. Hanya pasien dengan serangan jantung dan pasien PJK dengan tingkat risiko sedang – tinggi saja yang perlu dikirim ke cathlab untuk angiografi koroner. Bila dijumpai penyempitan arteri koroner yang bermakna, maka umumnya dilanjutkan dengan tindakan untuk melebarkan penyempitan koroner tersebut, baik dengan cara di balon tanpa pemasangan stent/ring (balloon angioplasty) maupun disertai pemasangan stent (PCI/Percutaneous Coronary Intervention).

Meskipun angiografi koroner dan PCI merupakan prosedur yang paling umum dilakukan, beberapa prosedur lain dapat pula dikerjakan di sebuah cathlab baik untuk tujuan diagnostik maupun terapi.

Prosedur-prosedur yang biasa dikerjakan di cathlab antara lain :

  1. Angiografi koroner untuk diagnostik PJK dan menilai beratnya penyempitan arteri koroner
  2. PCI untuk terapi PJK dengan melebarkan dan memasang stent pada arteri koroner
  3. Kateterisasi jantung kanan untuk diagnostik penyakit jantung bawaan
  4. Pemasangan ocluder untuk menutup lubang/defek pada penyakit jantung bawaan seperti ASD, VSD atau PDA
  5. Percutaneous Transvenous Mitral Commisurotomy (PTMC) untuk melebarkan katup mitral (katup jantung kiri) yang mengalami stenosis/penyempitan
  6. Pemasangan pacu jantung (Pace Maker)
  7. Electrophysiology Study dan ablasi untuk diagnosis dan terapi kelainan irama jantung
  8. DSA (Digital Substaction Angiography) untuk menilai kelainan pembuluh darah di otak, tungkai dan lain-lain

Bagi masyarakat yang membutuhkan layanan Cathlab/Kateterisasi, dapat dilakukan di RS Al-Islam Bandung. Baik pasien umum, maupun dengan menggunakan fasilitas BPJS, sesuai prosedur yang barlaku.

Pelayanan Cathlab ditangani langsung oleh dokter-dokter spesialis jantung RS Al-Islam Bandung yang telah tersertifikasi untuk penanganan tindakan kateterisasi jantung.

Untuk Informasi Lebih Lanjut Hubungi. 022-7562046 Ext. 3908


01/Des/2018

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

“Wahai hamba-Ku, aku ini ‘sakit’, tetapi kamu tidak mau menjenguk dan merawat-Ku”. Hamba menjawab, “Bagaimana aku dapat menjenguk dan merawat-Mu, sedang Engkau Rabbul Alamin.” Allah menjawab, “Seorang hamba-Ku sakit, apabila kamu menjenguk dan merawatnya tentu kamu akan menjumpai-Ku di sana.”

Dalam salah satu hadits Qudsi di atas, Allah S.W.T telah menempatkan kedudukan orang-orang yang sakit seolah-olah Allah Ta’ala sendiri yang sakit. Dapat kita simpulkan bahwa, manusia dituntut agar selalu memperhatikan orang-orang yang sakit dengan memberikan bantuan moril maupun materiil. Khususnya bagi penderita AIDS, sehingga mereka tak terkucilkan secara moral dari masyarakat.

Ajaran Islam menganjurkan umatnya untuk memerhatikan dan memerlakukan dengan baik kepada orang-orang yang sakit, termasuk orang yang menderita HIV/AIDS. Namun, jangan sampai perlakuan yang baik itu justru akan mengorbankan orang lain yang tak terkena menjadi tertular HIV/AIDS.

“Bahaya itu tidak boleh dihilangkan dengan mendatangkan bahaya lain”

“Sesungguhnya Islam merupakan Rahmat bagi sekalian Alam”


26/Nov/2018

Diabetes Mellitus

Terdapat peningkatan kasus DM dengan berjalannya waktu, bersamaan dengan peningkatan prevalensi overweight dan obesitas. Pada penelitian Steno-2 Study, pasien yang mendapatkan intensif terapi dan modifikasi tingkah laku, resiko kardiovaskular (penyakit jantung) menurun 60%, dan terdapat penurunan terkena stroke.

 

Obesitas

Beberapa trial menunjukkan adanya penurunan tekanan darah dengan penurunan berat badan.

 

Merokok

Terdapat bukti yang kuat dari efek yang merusak/merugikan dari merokok pada stroke, penyakit jantung dan kanker. Resiko stroke pada perokok mencapai puncaknya pada usia pertengahan dan menurun dengan bertambahnya usia.

 

Inaktifitas Fisik

Suatu penelitian meta analisis menunjukkan individu dengan aktifitas sedang sampai tinggi memiliki resiko insidensi atau kematian karena stroke yang lebih rendah dibanding individu dengan aktifitas rendah. Pada tahun 2008 Physical Activity Guidelines for Americans merekomendasikan untuk dewasa melakukan minimal 150 menit per minggu intensitas sedang, atau 75 menit perminggu intensitas tinggi aktifitas aerobic, atau kominasi yang sepadan antara aktifitas aerobic yang sedang dan tinggi.

 

Lemak

Sebagian besar studi epidemiologi menunjukkan adanya hubungan antara level kolesterol yang tinggi dengan peningkatan resiko stroke iskemik (penyumbatan), dan menunjukkan adanya keuntungan dengan menurunkan LDL  pada penurunan resiko stroke.

 

Atrial Fibrilasi

AF merupakan faktor resiko yang kuat yang menyebabkan terjadinya stroke 5 kali lipat pada seluruh usia grup. Karena prevalensinya meningkat sesuai dengan usia, persentase stroke berhubungan dengan peningkatan AF pada grup usia tua.

 

Depresi

Stressor psikososial dan depresi kurang diperhatikan daripada faktor resiko stroke lainnya pada upaya pencegahan stroke. Terdapat evidence yang berkembang bahwa faktor ini dapat meningkatkan faktor resiko stroke.

 

Yang Perlu Dilakukan

  • Pengendalian dan terapi faktor resiko (hipertensi, atrial fibrilasi, DM, dyslipidemia, penyakit arteri karotis). Kunjungi dokter secara teratur. Stop kebiasaan/ kegiatan yang tidak baik (merokok, alcoholism, inaktiitas fisik, obesitas, narkoba). Lakukan gaya hidup yang sehat.
  • Pencegahan stroke primer (mencegah terkenanya stroke) dan sekunder (mencegah terjadinya kembali serangan stroke yang berikutnya) antara lain dengan menggunakan obat antiplatelet, ataupun antikoagulan oral pada kasus atrial fibrilasi, serta kendalikan/terapi faktor resiko anda (hubungi dokter anda)
  • Penatalaksanaan Stroke harus secara cepat dan tepat. Segera kirim pasien ke RS. Semakin cepat dikirim ke RS, semakin banyak sel-sel saraf yang dapat diselamatkan. Penatalaksanaan di RS sesuai dengan jenis stroke, awitan stroke, dan dikelola secara multidisipliner sesuai dengan kondisi pasien. Pendidikan terhadap pasien maupun keluarga sangat penting agar dapat mengerti tentang stroke, tindakan/terapi yang diberikan maupun rencana terapi/tindakan selanjutnya.
  • Setelah perawatan stroke, penting agar pasien kontrol secara teratur, untuk mencegah terjadinya stroke ulang, pengendalian faktor resiko, menjaga kondisi psikis pasien, serta untuk penatalaksanaan rehabilitasi medis.

22/Nov/2018

Kanker leher rahim atau kanker serviks merupakan penyakit yang menjangkit kaum hawa dan salah satu kanker yang mematikan. Dalam banyak kasus, kanker serviks terkait dengan infeksi menular seksual. Menurut data dari Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization), tidak kurang dari satu juta wanita di dunia menderita penyakit ini.

Penyebab kanker serviks ini adalah infeksi kuman human papillomavirus (HPV) yang menyerang leher rahim. Terdapat lebih dari 100 jenis virus HPV, 13 diantaranya dapat menyebabkan kanker serviks. Penularan virus ini bisa terjadi melalui hubungan seksual dengan orang yang memiliki virus yang sama. Virus akan menginfeksi sel sehat pada dinding rahim dan sel sehat akan mati, lalu digantikan sel abnormal yang tumbuh tidak terkendali. Itulah yang kemudian menjadi kanker.

Banyak wanita yang tidak menyadari bahwa ia terserang penyakit ini. Kalaupun ada gejalanya, hal itu sering kali diremehkan. Sehingga penyakit berkembang dari semula stadium awal menjadi stadium lanjut. Sebenarnya penyakit ini dapat disembuhkan secara total jika ditemukan sedini mungkin.

Pemeriksaan IVA menjadi salah satu upaya dini untuk mencegah kanker serviks. Pemeriksaan IVA merupakan pemeriksaan inspeksi visual dengan asam asetat yang bertujuan untuk mengetahui kondisi kesehatan organ serviks tersebut.

Berkaitan dengan sosialisasi bahaya kanker serviks yang bertepatan dengan rangkaian Hari Kesehatan Nasional yang ke-54, Rumah Sakit Al Islam (RSAI) Bandung bekerjasama dengan Kecamatan Rancasari, Kota Bandung, mengadakan pemeriksaan IVA gratis secara massal pada Senin (19/11/2018). Kegiatan ini diikuti oleh lebih kurang 400 warga yang ada di Kecamatan Rancasari, meliputi Kelurahan Manjahlega, Cipamokolan, Mekarjaya dan Derwati.

Menurut Kepala Seksi Pemberdayaan Perempuan Kecamatan Rancasari, Indah, kegiatan ini sangat baik untuk diselenggarakan dan sesuai dengan program prioritas TP PKK, yaitu Pokja 4 yang programnya melakukan pemeriksaan IVA. “Tujuan dari IVA test ini adalah untuk memberikan edukasi dan sosialisasi mengenai pentingnya deteksi dini kanker mulut rahim, kepada masyarakat. Diharapkan kegiatan ini dapat berkelanjutan sebagai upaya preventif, agar masyarakat terhindar dari kanker serviks ini,” papar Indah.

Hal serupa disampaikan oleh Ketua Pokja 4 TP PKK Kota Bandung, Eulis Sumiati. Menurut Eulis, Pokja 4 TP PKK Kota Bandung sangat mengapresiasi kegiatan Gebyar Pemeriksaan IVA yang dilaksanakan oleh TP PKK Kecamatan Rancasari, bekerjasama dengan RSAI Bandung, sebagai upaya untuk mencegah kanker serviks melalui deteksi dini dengan pemeriksaan IVA.

“Melalui peran PKK sebagai penggerak dan penyuluh di masyarakat, diharapkan masyarakat terutama pasangan usia subur semakin memahami pentingnya pemeriksaan IVA sebagai deteksi dini pencegahan kanker serviks. Besar harapan saya kegiatan ini dapat dilakukan secara berkesinambungan. Sehingga semakin meningkatkan kesadaran cakupan IVA test di Kecamatan Rancasari khususnya dan Kota Bandung pada Umumnya,” tutur Eulis.


LOGO-PUTIH-compress

About Us :
RS Al Islam Bandung adalah Rumah Sakit milik Yayasan RSI KSWI Jawa Barat yang mempunyai visi "Menjadi Rumah Sakit Yang Unggul, Terpercaya dan Islami dalam Pelayanan dan Pendidikan"

RS Al Islam Bandung
Jl. Soekarno Hatta No. 644
Tel. (022) 7565588
Email : cs@rsalislam.com

Recent Posts

Sertifikat

paripurna-2022-2026-4-11zon

Sertifikat Paripurna

Copyright by RS Al Islam Bandung 2021. All rights reserved.

icon

Jadwal Dokter

Info Jadwal Dokter Terbaru

icon

Customer Care

Sampaikan apa saja sama kami

icon

Daftar Online

Jadwalkan Rencana Kunjungan Anda

Tanya RSAI