09/Jan/2019

Bismillaahirrahmaanirrahiiim…

Batuk merupakan suatu reaksi pertahanan tubuh. Dalam hal ini organ saluran pernafasan yang bereaksi terhadap iritasi di tenggorokan, baik oleh karena adanya lendir, makanan, debu, asap, dan lain sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan bersin adalah keluarnya udara melalui hidung dan mulut yang terjadi dengan tiba-tiba dan disertai dengan hentakan yang keras.

Dalam suatu penelitian diketahui bahwa, hembusan udara yang keluar melalui batuk dan bersin dapat mencapai kecepatan 70m/detik – 250m/detik. Tidak hanya itu, ribuan sampai jutaan kuman dapat tersebar bersamaan dengan butir-butir air yang terhembus pada saat kita batuk ataupun bersin. Dalam satukali bersin, dapat mengeluarkan 40.000 butir air, sedangkan dalam setiap butir air yang terhembus, mengandung kuman penyebab beberapa penyakit infeksi dengan ukuran bervariasi, antara 0,5 µm hingga 5 µm. Hal ini tentunya sangat beresiko menjadi media penularan penyakit infeksi, terutama infeksi pernafasan.

Manusia sebagai makhluk sosial, tidak akan terlepas dari interaksi dengan manusia lainya. Pasar, tempat bekerja, pusat perbelanjaan, menjadi lokasi dimana biasanya kita akan menemui banyak orang. Kita tidak tahu, apakah diantara sekian banyak orang, apakah terdapat orang yang sakit atau tidak. Atau mungkin kita sendiri yang sedang menderita penyakit. Dalam situasi seperti itu, sangatlah beresiko untuk tertularnya penyakit infeksi pernafasan yang disebabkan oleh kuman. Bisa saja setiap partikel udara yang kita hirup, mengandung kuman-kuman yang dapat masuk kedalam tubuh kita. TBC, Influenza, Campak, Cacar air, merupakan beberapa penyakit yang dapat menular melalui udara.

Oleh karena itu, mari kita cegah penularan infeksi penyakit melalui pernafasan, dengan melakukan “Etika Batuk” di manapun kita berada. Etika batuk merupakan suatu cara untuk mencegah penyebaran kuman penyebab infeksi pernafasan yang dapat menyebar melalui batuk dan bersin.

Siapa yang wajib melakukan etika batuk?

Setiap orang yang sedang menderita infeksi pernafasan (batuk/flu), wajib melakukannya.

Mengapa wajib melakukan etika batuk?

Dengan melakukan etika batuk, maka diharapkan dapat memutus mata rantai penularan penyakit infeksi saluran pernafasan kepada orang lain yang sehat melalui percikan air/udara yang mengandung kuman penyebab infeksi pernafasan yang dikeluarkan melalui batuk atau bersin.

Bagaimana cara melalukan etika batuk yang benar?

Berdasarkan pedoman pelaksanaan pencegahan infeksi yang diterbitkan oleh Kemenkes tahun 2011, disebutkan bahwa langkah urutan pelaksanaan etika batuk adalah sebagai berikut:

  1. Saat anda batuk atau bersin, gunakanlah tisu atau saputangan atau lengan baju bagian dalam untuk menutupi hidung dan mulut.
  2. Buang tisu yang telah dipakai, ketempat sampah
  3. Bila menggunakan sapu tangan, maka setelah selesai digunakan sebagai penutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, simpanlah saputangan anda dengan posisi bagian yang telah dipakai berada pada lipatan bagian dalam.
  4. Cucilah tangan anda (boleh menggunakan sabun dan air mengalir atau antiseptik untuk cuci tangan)
  5. Saat menderita infeksi saluran pernafasan, sangat disarankan untuk menggunakan masker selama berada di area umum. Hal ini dilakukan untuk menghindari penyebaran mikroorganisme ke lingkungan sekitar.

Mari kita budayakan etika batuk, demi melindungi orang-orang sekitar, termasuk orang-orang yang kita sayangi. Yakinlah bahwa hal kecil seperti ini, dapat mencegah sesuatu yang besar terjadi (penyebaran virus kepada banyak orang).

Lakukanlah pola hidup sehat, kesehatan merupakan suatu hal yang ‘mewah’. Tentu anda tidak ingin sesuatu yang mewah ini hilang, bukan?

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengajak kita untuk hidup “CERDIK”.

Cek kesehatan secara berkala

Enyahkan asap rokok

Rajin aktivitas fisik

Diet sehat dengan kalori seimbang

Istirahat yang cukup

Kelola stres

 


08/Jan/2019

“Asma” berasal dari kata asthma. Kata ini berasal dari bahasa Yunani yang memiliki arti sulit bernafas. Penyakit asma dikenal karena adanya gejala sesak nafas, batuk, dan mengi yang disebabkan oleh penyempitan saluran nafas. Atau dengan kata lain asma merupakan peradangan atau pembengkakan saluran nafas yang reversibel sehingga menyebabkan diproduksinya cairan kental yang berlebih.

Asma merupakan penyakit inflamasi kronik saluran napas yang disebabkan oleh reaksi hiperresponsif sel imun tubuh seperti mast sel, eosinophils, dan T-lymphocytes terhadap stimuli tertentu dan menimbulkan gejala dyspnea, whizzing, dan batuk akibat obstruksi jalan napas yang bersifat reversibel dan terjadi secara episodik berulang.

Menurut ahli, asma, bengek atau mengi adalah beberapa nama yang biasa kita pakai kepada pasien yang menderita penyakit asma. Asma bukan penyakit menular, tetapi faktor keturunan (genetic) sangat punya peranan besar di sini.

Saluran pernafasan penderita asma sangat sensitif dan memberikan respon yang sangat berlebihan jika mengalami rangsangan atau ganguan. Saluran pernafasan tersebut bereaksi dengan cara menyempit dan menghalangi udara yang masuk. Penyempitan atau hambatan ini bisa mengakibatkan salah satu atau gabungan dari berbagai gejala mulai dari batuk, sesak, nafas pendek, tersengal-sengal, hingga nafas yang berbunyi ”ngik-ngik”.

Beberapa ahli membagi asma dalam 2 golongan besar, seperti yang dianut banyak dokter ahli pulmonologi (penyakit paru-paru) dari Inggris, yakni:

1. Asma Ekstrinsik

Asma ekstrinsik adalah bentuk asma yang paling umum, dan disebabkan karena reaksi alergi penderitanya terhadap hal-hal tertentu (alergen), yang tidak membawa pengaruh apa-apa terhadap mereka yang sehat.

Pada orang-orang tertentu, seperti pada penderita asma, sistem imunitas bekerja lepas kendali dan menimbulkan reaksi alergi. Reaksi ini disebabkan oleh alergen. Alergen bisa tampil dalam bentuk serbuk bunga, tanaman, pohon, debu luar/dalam rumah, jamur, hingga zat/bahan makanan. Ketika alergen memasuki tubuh pengidap alergi, sistem imunitasnya memproduksi antibodi khusus yang disebut IgE. Antibodi ini mencari dan menempelkan dirinya pada sel-sel batang. Peristiwa ini terjadi dalam jumlah besar di paru-paru dan saluran pernafasan lalu membangkitkan suatu reaksi. Batang-batang sel melepaskan zat kimia yang disebut mediator. Salah satu unsur mediator ini adalah histamin.

Akibat pelepasan histamin terhadap paru-paru adalah reaksi penegangan/pengerutan saluran pernafasan dan meningkatnya produksi lendir yang dikeluarkan jaringan lapisan sebelah dalam saluran tersebut.

2. Asma Intrinsik

Asma intrinsik tidak responsif terhadap pemicu yang berasal dari alergen. Asma jenis ini disebabkan oleh stres, infeksi, dan kondisi lingkungan seperti cuaca, kelembaban dan suhu udara, polusi udara, dan juga oleh aktivitas olahraga yang berlebihan.

Asma intrinsik biasanya berhubungan dengan menurunnya kondisi ketahanan tubuh, terutama pada mereka yang memiliki riwayat kesehatan paru-paru yang kurang baik, misalnya karena bronkitis dan radang paru-paru (pneumonia). Penderita diabetes mellitus golongan lansia juga mudah terkena asma intrinsik.

Tujuan dari pemisahan golongan asma seperti yang disebut di atas adalah untuk mempermudah usaha penyusunan dan pelaksanaan program pengendalian asma yang akan dilakukan oleh dokter maupun penderita itu sendiri. Namun dalam prakteknya, asma adalah penyakit yang kompleks, sehingga tidak selalu dimungkinkan untuk menentukan secara tegas, golongan asma yang diderita seseorang. Sering indikasi asma ekstrinsik dan intrinsik bersama-sama dideteksi ada pada satu orang.

 

Penyebab Terjadinya Asma

Menurut The Lung Association of Canada, ada dua faktor yang menjadi penyebab asma, yaitu:

1. Pemicu (trigger) yang mengakibatkan mengencang atau menyempitnya saluran pernafasan (bronkokonstriksi). Pemicu tidak menyebabkan peradangan. Banyak kalangan kedokteran yang menganggap pemicu dan bronkokonstriksi adalah gangguan pernafasan akut, yang belum berarti asma, tapi bisa menjurus menjadi asma jenis intrinsik. Gejala-gejala bronkokonstriksi yang diakibatkan oleh pemicu cenderung timbul seketika, berlangsung dalam waktu pendek dan relatif mudah diatasi dalam waktu singkat. Namun saluran pernafasan akan bereaksi lebih cepat terhadap pemicu, apabila sudah ada, atau sudah terjadi peradangan. Umumnya pemicu yang mengakibatkan bronkokonstriksi termasuk stimulus sehari-hari seperti: perubahan cuaca dan suhu udara, polusi udara, asap rokok, infeksi saluran pernafasan, gangguan emosi, dan olahraga yang berlebihan.

2. Penyebab (inducer) yang mengakibatkan peradangan (inflammation) pada saluran pernafasan. Penyebab asma (inducer) bisa menyebabkan peradangan (inflammation) dan sekaligus hiperresponsivitas (respon yang berlebihan) dari saluran pernafasan. Oleh kebanyakan kalangan kedokteran, inducer dianggap sebagai penyebab asma sesungguhnya atau asma jenis ekstrinsik. Penyebab asma (inducer) dengan demikian mengakibatkan gejala-gejala yang umumnya berlangsung lebih lama (kronis), dan lebih sulit diatasi, dibanding gangguan pernafasan yang diakibatkan oleh pemicu (trigger). Umumnya penyebab asma (inducer) adalah alergen, yang tampil dalam bentuk: ingestan, inhalan, dan kontak dengan kulit. Ingestan yang utama ialah makanan dan obat-obatan. Sedangkan alergen inhalan yang utama adalah tepung sari (serbuk) bunga, tungau, serpih dan kotoran binatang, serta jamur.

(bersambung…)


07/Jan/2019

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Diabetes Mellitus (DM) atau yang lebih dikenal di masyarakat dengan kencing manis adalah suatu penyakit yang diakibatkan oleh tingginya kadar gula/glukosa didalam darah atau di atas  normal/hiperglikemia. Glukosa yang menumpuk di dalam darah akibat tidak diserap sel tubuh dengan baik dapat menimbulkan berbagai gangguan pada organ tubuh dan jika tidak dikontrol dengan baik maka dapat menimbulkan berbagai komplikasi yang membahayakan nyawa penderita.

 

Apabila sudah terjangkit DM maka perlu adanya pengelolaan penyakit dengan baik setidaknya ada 4 (empat) pilar utama dalam pengelolaan DM, ke empat pilar tersebut adalah penyuluhan atau edukasi, terapi gizi medis, latihan jasmani atau aktivitas fisik dan intervensi farmakologis. Ke empat pilar pengelolaan ini dapat diterapkan pada semua jenis tipe Diabetes melitus termasuk DM tipe II dan untuk mencapai fokus pengelolaan DM yang optimal maka perlu adanya keteraturan terhadap keempat pilar utama tersebut.

 

Salah satu komponen yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah latihan jasmani atau olahraga yang sangat penting dalam penatalaksanaan diabetes karena efeknya dapat menurunkan kadar glukosa darah dengan meningkatkan pengambilan glukosa oleh otot dan memperbaiki pemakaian insulin.

 

Latihan jasmani akan menyebabkan terjadinya peningkatan aliran darah, dengan demikian maka akan lebih banyak jala-jala kapiler terbuka sehingga lebih banyak tersedia reseptor insulin dan reseptor menjadi aktif yang akan berpengaruh terhadap penurunan glukosa darah pada pasien diabetes. Latihan jasmani atau olahraga yang dianjurkan salah satunya adalah senam kaki diabetes melitus diamana senam kaki ini bertujuan untuk memperbaiki sirkulasi darah sehingga nutrisi ke jaringan lebih lancar, memperkuat otot-otot kecil, otot betis dan otot paha, menurunkan kadar gula darah serta mengatasi keterbatasan gerak sendi yang dialami oleh penderita diabetes mellitus.

Perawatan kaki diabetik merupakan salah satu bagian penting dari manajemen perawatan untuk penderita DM. Penyakit DM mengakibatkan beberapa komplikasi yang salah satunya adalah dapat meningkatkan risiko gangguan vascular perifer yang berujung pada munculnya ulkus/gangrene pada kaki penderita DM kronik. Perawatan kaki yang tepat diharapkan dapat mencegah terjadinya komplikasi yang lebih lanjut.

Berikut cara perawatan kaki pada penderita/pasien diabetik :

  • Periksakan kulit untuk mengetahui adanya iritasi, retak, lesi, kapalan cacat atau edema
  • Periksa sepatu pasien agar dapat mengunakan dengan tepat
  • Berikan rendam kaki jika diperlukan
  • Keringkan sela-sela jari dengan seksama
  • Oleskan lotion
  • Bersihkan kuku
  • Berikan obat tabur yang menyerap kelembaban sesuai indikasi
  • Diskusikan dengan pasien mengenai perawatan rutin kaki
  • Anjurkan pasien atau keluarga mengenai pentingnya perawatan kaki
  • Monitor cara berjalan dan tumpuan berat badan pasien pada kaki
  • Monitor kebersihan dan kondisi umum sepatu
  • Monitor tingkat hidrasi kaki
  • Monitor insufisiensi di arteri kaki bagian bawah
  • Monitor edema pada kaki dan tungkai kaki
  • Anjurkan pada pasien untuk memonitor suhu pada kaki dengan mengunakan punggung tanggan
  • Anjurkan pasien akan pentingnya pemeriksaan kaki terutama ketika sensasi kaki mulai merasa berkurang
  • Pangkas ketebalan kuku kaki dengan normal ketika kuku kaki terasa lembut dengan mengunakan pemotong kuku dan menggunakan lengkungan jari kaki sebagai panduan
  • Rujuk pada ahli penyakit kaki untuk pemangkasan kuku yang menebal
  • Periksa kuku untuk mengetahui ketebalan dan perubahan warna
  • Ajarkan pasien bagaimana mempersiapkan dan memotong kuku

 

Senam Kaki Diabetik

Senam kaki diabetik adalah kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh pasien yang menderita diabetes melitus untuk mencegah terjadinya luka dan membantu memperlancar peredaran darah pada bagian kaki. Senam kaki dapat membantu memperbaiki sirkulasi darah dan memperkuat otot-otot kecil kaki dan mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki. Selain itu dapat meningkatkan kekuatan otot betis, otot paha, dan juga mengatasi keterbatasan pergerakan sendi.

Senam kaki ini dapat diberikan kepada seluruh penderita Diabetes Melitus dengan tipe I dan II, namun sebaiknya diberikan sejak pasien didiagnosa menderita DM sedangkan untuk penderita atau pasien yang mengalami perubahan fungsi fisiologis seperti dispnea atau nyeri dada dan pasien yang mengalami depresi , khawatir dan cemas sebaiknya tidak dilakukan.

Gerakan Senam Kaki Diabetik

Senam kaki diabetik dapat dilakukan dengan posisi duduk, dengan langkah langkah sebagai berrikut :

  1. Posisi duduk tegak di atas bangku dengan kaki menyentuh lantai
  2. Letakkan kedua kaki dilantai, angkat kedua jari-jari kaki keatas dengan tumit tetap dilantai, kemudian angkat kedua tumit ke atas dengan posisi kedua jari dilantai. Ulangi gerakan tersebut 10 kali.
  3. Letakkan tumit salah satu kaki di lantai angkat telapak kaki lainnya, kemudian jari – jari kaki diletakkan di lantai dengan tumit kaki diangkat ke atas, cara ini dilakukan bersamaan pada kaki kiri dan kanan secara bergantian dan diulangi sebanyak 10 kali.
  4. Tumit kaki diletakkan di lantai dimana bagian ujung kaki diangkat ke atas dan buat gerakan memutar dengan pergerakan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali.
  5. Jari – jari diletakkan di lantai lalu tumit diangkat dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali.
  6. Angkat salah satu lutut kaki, dan Gerakan jari-jari ke depan, turunkan kembali secara bergantian ke kiri dan ke kanan. Ulangi sebanyak 10 kali.
  7. Luruskan salah satu kaki di atas lantai kemudian angkat kaki tersebut dan gerakkan ujung jari kaki ke arah wajah lalu turunkan kembali ke
  8. Angkat kedua kaki, lalu ulangi langkah ke 8, namun gunakan kedua kaki secara bersamaan. Ulangi sebanyak 10 kali.
  9. Angkat kedua kaki dan luruskan, pertahankan posisi, gerakan pergelangan kaki ke depan dan ke belakang.
  10. Luruskan salah satu kaki dan angkat, putar kaki pada pergelangan kaki, tuliskan pada udara dengan kaki dari angka 0 hingga 10 lakukan secara
  11. Letakkan sehelai Koran di lantai lalu bentuk koran itu menjadi seperti bola dengan kedua belah kaki. Kemudian, buka bola itu menjadi lembaran seperti semula menggunakan kedua belah kaki, lalu robek koran menjadi 2 bagian, pisahkan kedua bagian koran. Selanjutnya sebagian koran disobek-sobek menjadi kecil-kecil dengan kedua kaki kemudian pindahkan kumpulan sobekan-sobekan tersebut dengan kedua kaki lalu letakkan sobekan koran pada bagian koran yang utuh lalu bungkus semuanya dengan kedua kaki menjadi bentuk bola dan buang ketempat sampah

Demikian tulisan sederhana ini semoga bermanfaat dan untuk lebih jelasnya mengenai gerakan senam kaki diabetik ini, silakan klik https://www.youtube.com/watch?v=x7ZG935MPJ0&t=19s untuk menonton videonya di Channel Youtube kami atau Facebook di RS Al-Islam Bandung


31/Des/2018

Sebagai lanjutan tulisan sebelumnya, berikut beberapa penyakit gigi dan mulut yang berhubungan dengan penyakit sistemik, antara lain :

  1. Penderita Diabet/kencing manis, banyak ditemukan kelainan-kelainan jaringan periodontal/jaringan pengikat gigi mengalami kehancuran hingga gigi mengalami kegoyangan dan gigi lepas sendiri dari tempatnya. Hal ini akan diperparah bila kondisi rongga mulut nya buruk.
  2. Penderita yang dengan penyakit periodontal/penyakit gusi, memiliki kemungkinan lebih besar terhadap risiko kanker pancreas. Karena peradangan sistemik menghasilkan tingkat senyawa karsinogenik lebih besar.
  3. Penyakit gigi/penyakit gusi (kelainan periodontal) pada ibu hamil, sangat sering dijumpai dikarenakan ketidakseimbangan hormonal. Ibu hamil yang menderita penyakit gusi memiliki komplikasi pada kehamilannya lebih besar. Menurut penelitian, bahwa wanita dengan riwayat penyakit gusi pada usia kehamilan triwulan pertama, kemungkinan mereka akan melahirkan sebelum minggu ke-37/lahir lebih cepat/premature.
  4. Penelitian-penelitian yang menghubungkan antara kesehatan gigi dan mulut terhadap penyakit jantung yang dipengaruhi pula faktor usia dan kebiasaan merokok. Dalam bukti penelitian, terdapat bakteri saku gusi yang ditemukan di pembuluh darah jantung, hal ini akan sangat berbahaya bagi penderita.
  5. Riwayat penyakit gigi dan mulut dapat pula menimbulkan gangguan saluran pernafasan.
  6. Riwayat penyakit-penyakit darah (anemia, leukemia, multiple myeloma).
  7. Riwayat penyakit rheumatologic (sjogren syndrome).
  8. Riwayat penyakit kardiovaskuler, bakteri dalam rongga mulut dapat langsung masuk ke dalam tubuh melalui aliran darah.

Pengobatan

Apabila terjadi masalah atau gangguan pada gigi kita, sebaiknya kita mendatangi dokter gigi yang sesuai dengan keluhan yang kita alami. Berikut adalah daftar spesialisasi dokter gigi yang disesuaikan dengan keluhan atau penyakit gigi dan mulut yang diderita oleh individu.

  1. Dokter gigi Spesialis Bedah Mulut, biasa mengerjakan kasus-kasus pencabutan gigi bungsu yang tumbuh terpendam/miring atau gigi lain dengan posisi tumbuh tidak pada tempatnya, fraktur tulang rahang akibat trauma/benturan, tindakan/operasi celah bibir dan langit-langit, operasi tumor rongga mulut, dll.
  2. Dokter gigi Spesialis Prostodonti/pembuatan gigi tiruan, mengerjakan pembuatan gigi tiruan kasus-kasus tertentu yang tidak bisa diatasi dokter gigi umum, pembuatan alat penutup celah langit pada bayi/obturator, dll.
  3. Dokter gigi Spesialis Ortodonti, mengerjakan pemasangan kawat gigi “fixed” yang tidak bisa dilepas pasang pasien (behel gigi). Behel ini berfungsi untuk meratakan susunan gigi yang tumbuh tidak rata/karehol karena mengganggu estetik dan fungsi lain.
  4. Dokter gigi Spesialis Konservasi Gigi/Endodontik, mengerjakan perawatan saluran akar gigi/perawatan syaraf gigi hingga tuntas dilanjutkan dengan tindakan penambalan tetap/pembuatan mahkota gigi dengan bahan sesuai indikasi, dll.
  5. Dokter gigi Spesialis Periodonti, mengerjakan tindakan-tindakan pembersihan karang gigi untuk kasus-kasus yang tidak bisa ditangani dokter gigi umum, pemasangan kawat/wire untuk mempertahankan susunan gigi yang mengalami kegoyangan, tindakan pembedahan jaringan gusi/gingival yang mengalami kelainan, dll.
  6. Dokter gigi Spesialis Pedodonti, mengerjakan tindakan-tindakan perawatan syaraf gigi anak, dilanjutkan dengan penambalan, pembuatan alat protesa untuk menahan ruangan pada gigi susu yang dicabut lebih awal supaya gigi yang masih sehat tidak bergerak kearah yg ompong (space maintener/space regainer) mengarahkan pertumbuhan/perkembangan gigi geligi, dll.
  7. Dokter gigi Spesialis Penyakit Mulut, mengerjakan tindakan penyakit-penyakit mulut yang lebih khas/kelainan-kelainan sistemik yang bermanifestasi ke rongga mulut seperti Oral Candidiasis (penyakit yang mengenai jaringan rongga mulut akibat pertumbuhan jamur yang tidak normal), Stomatitis/sariawan yang sulit sembuh, acute necrotizing ulcerative gingivitis, dll.
  8. Dokter gigi Spesialis Radiologi, mengerjakan/menganalisa dan menginterpretasi gambaran radiologi gigi geligi dan rahang dengan kondisi kelainan yang menyertainya.
  9. Dokter Gigi Umum, pekerjaannya meliputi tindakan preventif, kuratif dan rehabilitative terhadap kondisi gigi dan mulut individu/masyarakat. Tindakan yang dikerjakan seorang dokter gigi umum meliputi penambalan gigi, pembersihan karang gigi, perawatan syaraf gigi, pencabutan gigi, pembuatan gigi tiruan dan merapikan susunan gigi yang tidak teratur dengan alat ortodonsia lepasan. Pada kasus kelainan gigi dan mulut yang tidak bisa ditangani dokter gigi umum maka pasen akan dikonsulkan ke dokter gigi spesialis sesuai kompetensi/sesuai kasus yang dihadapi.

Rasulullah SAW bersabda: “Andaikan Aku tidak memberatkan umatku, pasti aku perintahkan atas mereka bersiwak/menggosok gigi setiap akan sembahyang”. (HR. Bukhari Muslim).

Hadist diatas menjelaskan bahwa betapa pentingnya setiap individu merawat kebersihan gigi dan mulut sehingga Rasulullah menganjurkan umatnya untuk senantiasa bersiwak (membersihkan gigi) saat hendak shalat. Merawat gigi geligi itu sangatlah penting karena apabila kebersihan rongga mulut tidak terjaga, dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti diterangkan diatas, dari penyakit ringan hingga penyakit yg lebih parah.

Hal-hal yang penting dilakukan dalam merawat gigi  :

  1. Menyikat gigi dengan cara yang benar dan rutin setiap hari setelah sarapan dan sebelum tidur.
  2. Menggosok gigi dengan jenis bulu sikat gigi halus/medium.
  3. Menggosok gigi dengan memakai pasta gigi yang sesuai selera + tidak dengan tekanan berlebih.
  4. Berkumur-kumur setelah makan agar sisa makanan yang menempel di gigi bisa keluar.
  5. Dianjurkan makan makanan berserat karena membantu membersihkan gigi/self cleansing.
  6. Mengurangi makanan manis dan lengket, terutama anak-anak periode pertumbuhan.
  7. Ada tidak ada keluhan, wajib kontrol ke dokter gigi umum setiap 6 bulan sekali. Hal ini sangat diperlukan karena bila ditemukan lubang gigi yang masih dangkal bisa langsung ditambal per-manen atau bila ditemukan karang gigi dapat dilakukan pembersihan karang gigi/scaling. Bila ditemukan kondisi lubang gigi yang sudah dalam, sering sakit hilang timbul, berdenyut dan bengkak maka kunjungan ke dokter gigi akan semakin lama.
  8. Yang terutama hilangkan rasa takut berlebih bila berkunjung ke dokter gigi.

Penyakit gigi dan mulut sangat berhubungan erat dengan kesehatan umum secara menyeluruh. Oleh karena nya setiap individu berkewajiban memelihara keadaan gigi dan mulut dengan baik. Jika individu dapat menjaga kondisi gigi geligi dan mulut maka hal tersebut bisa mewakili kesehatan tubuh secara umum.


24/Des/2018

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Masalah kesehatan gigi dan mulut mempunyai pengaruh terhadap proses tumbuh kembang dan masa depan derajat kesehatan setiap individu. Individu yg kurang atau tidak peduli terhadap kesehatan gigi geligi dapat  mengalami berbagai macam keluhan yang lambat laun dapat berpengaruh terhadap kesehatan tubuh secara umum. Salah satu penyebab munculnya masalah kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat yaitu perilaku yang mengabaikan pentingnya kebersihan rongga mulut dan gigi.

Sebelum membahas fungsi gigi geligi, mari kita simak terlabih dahulu bagaimana periode pertumbuhan gigi. Dalam pertumbuhan gigi geligi, terdapat 3 periode utama pergantian gigi, yakni :

  • Periode pertumbuhan gigi anak atau gigi sulung atau gigi susu ( Deciduous Teeth ) yang dimulai sejak usia 6 bulan sampai dengan 7 tahun.
  • Periode gigi campuran ( Mix Dentition ) yang dimulai sejak usia 7 tahun sampai dengan usia 12 tahun. Dimana kondisi normal gigi susu mulai goyang hingga copot sendiri karena desakan gigi tetap pengganti dibawahnya, namum didalam kondisi tidak normal, gigi susu harus segera dicabut bila gigi tetap pengganti keluar/erupsi tidak pada tempatnya, guna menghindari susunan gigi yang tidak rata.
  • Periode gigi tetap atau gigi dewasa ( Permanent Teeth) yang dimulai saat usia 12 tahun keatas semua gigi sulung akan digantikan gigi tetap tapi ada kalanya individu tertentu di usia ini masih ditemukan gigi susu yg belum copot.

 

Jumlah Gigi

Jumlah gigi pada orang dewasa memiliki jumlah 32 gigi yang tersebar di rahang atas dan rahang bawah, untuk Rahang Atas terdiri dari 6 gigi atas depan atau anterior dengan rincian  gigi seri 1, gigi seri 2 dan gigi taring kanan & kiri , 4 gigi premolar atau geraham kecil  yang terdiri dari  2 gigi premolar kanan dan 2 gigi premolar kiri  seta 6 gigi geraham yang terdiri dari 3 gigi geraham kanan & 3 gigi geraham kiri.

Rahang bawah terdiri dari 6 gigi bawah depan atau anterior dengan rincian, gigi seri 1, gigi seri 2 dan gigi taring kanan & kiri, di rahang bawah juga terdapat 4 gigi premolar atau geraham kecil dengan rincian, 2 gigi premolar kanan & 2 gigi premolar kiri lalu terdapat pula 6 gigi geraham dengan rincian, 3 gigi geraham kanan & 3 gigi geraham kiri,  terkadang individu tertentu mendapatkan jumlah gigi tetap hanya 28 atau 30 gigi hal ini bisa terjadi dikarenakan memang tidak ada benih gigi bungsu atau ada gigi bungsu tapi posisi terpendam atau miring.

Sedangkan untuk Jumlah gigi anak atau gigi susu adalah 20 gigi, Rahang Atas terdiri 6 gigi atas depan atau anterior dengan rincian  gigi seri susu 1, gigi seri susu 2 dan gigi taring susu kanan & kiri , di rahang atas juga terdapat 4 gigi geraham susu dengan rincian 2 gigi geraham susu kanan &  2 gigi geraham susu kiri sedangkan pada Rahang Bawah terdiri 6 gigi bawah depan atau anterior dengan rincian gigi seri susu 1, gigi seri susu 2 dan gigi taring susu kanan & kiri  di rahang bawah juga terdapat 4 gigi geraham susu dengan rincian 2 gigi geraham susu  kanan & 2 kiri).

Fungsi Gigi Geligi  

Gigi geligi mempunyai fungsi sebagai berikut : Fungsi Mastikasi (Pengunyahan), Fungsi Estetik (Penampilan), Fungsi Fonetik (Bicara), Fungsi Identifikasi, Menahan posisi gigi asli yg masih sehat tidak bergeser kearah yang ompong, Menghindari gangguan sendi temporo mandibular, Mencapai keseimbangan pengunyahan dan menahan jaringan lunak  agar otot wajah tetap sehat.

Jenis  Penyakit/Kelainan Pada Gigi

Dalam perjalanannya, gigi dapat mengalami kerusakan. Mulai dari kerusakan kecil, hingga kerusakan luas, diawali  dengan lubang kecil (karies), sedang, besar hingga tertinggal sisa akar. Selama proses kerusakan gigi yang lama tentu  dilalui fase rasa sakit ringan hingga berat. Berikut ini adalah jenis-jenis kelainan atau penyakit pada Gigi dan Mulut :

  • Karies / lubang gigi, dikarenakan aktifitas bakteri yg merusak struktur gigi.
  • Radang Gusi / Gingivitis / Gusi bengkak, hal ini bisa terjadi dikarenakan kondisi mulut tidak terjaga kebersihannya sehingga terjadi penumpukan karang gigi / plak menempel ditepi gusi / leher gigi, keadaan ini memudahkan terjadi perdarahan gusi karena iritasi karang gigi terhadap tepi gusi. Kondisi akan semakin parah bila tidak segera ditangani dengan benar sehingga bisa berlanjut menjadi jenis penyakit lain.
  • Gigi Hipersensitif, kelainan gigi biasa dirasakan “ngilu/linu” saat terkena rangsang dingin. Keluhan ini dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu secara alami atau bawaan saat pembentukan lapisan gigi, terbiasa makan minum yang dingin, pemutihan gigi, penumpukan plak, menggosok gigi dengan pasta gigi bersifat abrasive, Menggosok gigi dengan sikat gigi jenis bulu sikat keras/hard, Menggosok gigi dengan tekanan berlebih dan faktor usia lanjut.
  • Abses Gusi atau Gusi bengkak, hal ini dapat terjadi dikarenakan adanya infeksi pada gusi yang disebabkan oleh aktifitas bakteri yang berkembang biak sehingga gusi tampak bengkak dan bernanah yang penampakanya seperti cairan kental berwarna kuning/putih/kuning kecoklatan. Muncul nanah
  • Radang Pulpa Gigi atau Pulpitis, merupakan perluasan lubang gigi yg dibiarkan terlalu lama sehingga meluas ke daerah pulpa yang akhirnya menimbulkan rasa sakit yang cukup hebat.
  • Tumor Pada Gusi, Tumor merupakan pertumbuhan sel yang berkembang secara abnormal, tumor dapat tumbuh dijaringan mana saja termasuk mengenai organ mulut terutama bagian mukosa atau jaringan lunak seperti bibir, gusi, lidah dan langit-langit, kurang menjaga kesehatan rongga mulut dan gigi, faktor kebiasaan buruk, faktor turunan atau genetik, trauma atau benturan yang mengenai jaringan sekitar rongga mulut bisa menyebabkan tumor ganas atau tumor jinak.
  • Stomatitis atau Sariawan, Kelainan ini dapat dikarenakan kekurangan Vit.C, keadaan psikologis/stress, iritasi dari sisa akar gigi, mahkota gigi / tambalan tajam/kasar. (bersambung…)

LOGO-PUTIH-compress

About Us :
RS Al Islam Bandung adalah Rumah Sakit milik Yayasan RSI KSWI Jawa Barat yang mempunyai visi "Menjadi Rumah Sakit Yang Unggul, Terpercaya dan Islami dalam Pelayanan dan Pendidikan"

RS Al Islam Bandung
Jl. Soekarno Hatta No. 644
Tel. (022) 7565588
Email : cs@rsalislam.com

Recent Posts

Sertifikat

paripurna-2022-2026-4-11zon

Sertifikat Paripurna

Copyright by RS Al Islam Bandung 2021. All rights reserved.

icon

Jadwal Dokter

Info Jadwal Dokter Terbaru

icon

Customer Care

Sampaikan apa saja sama kami

icon

Daftar Online

Jadwalkan Rencana Kunjungan Anda

Tanya RSAI