MENJADI PRIBADI YANG BERMANFAAT

Oleh:

Ustadz Ma’mur Hidayat

Komite Syariah

 

Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, Ath Thabrani, Ad Daruquthi. Dinhasankan oleh Al Albani didalam Shahihul Jami’ no : 3289)

 

Menjadi pribadi yang bermanfaat adalah salah satu karakter yang harus dimiliki oleh seorang Muslim, dan ini merupakan bagian dari implementasi konsep Islam yang penuh cinta, yaitu memberi, karena semuanya yang kita berikan akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri.

Hadist tersebut menunjukan bahwa Rasullullah menganjurkan umat islam untuk selalu berbuat baik terhadap orang lain dan mahluk hidup yang lainnya. Hal ini menjadi indikator bagaimana menjadi mukmin yang sebenarnya. Eksistensi manusia sebenarnya ditentukan oleh sejauhmana kemanfataan dirinya. Apakah dia berguna bagi orang lain, atau malah sebaliknya menjadi parasit buat yang lainnya.

Setiap perbuatan maka akan kembali kepada orang yang berbuat. Seperti kita Memberikan manfaat kepada orang lain, maka manfaatnya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri dan juga sebaliknya. Allah SWT berfirman: “Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri” (QS. Al-Isra:7)

Kemanfaatan dan berbuat baik ini sangat kami tanamkan kepada karyawan untuk mengimplementasikan dalam pelayanan kepada pasien di Rumah Sakit Al Islam Bandung. Tentu saja manfaat dalam hadits ini sangat luas. Dan manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain terutama untuk pasien-pasien yang datang ke Rumah Sakit Al Islam Bandung baik dalam keadaan sehat maupun sakit (Medical Check Up, ke rawat jalan, ke UGD atau di rawat inap) atau bagi masyarakat sekitar dengan program bina wilayah Rumah Sakit Al Islam Bandung di area binaan baik  di Kelurahan Manjahlega khususnya maupun di Kecamatan Rancasari pada umumnya.

Pertama Ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum/dunia;
Manusia bisa memberikan kemanfaatan kepada orang lain dengan ilmu yang dimilikinya. Baik itu ilmu agama maupun ilmu umum. Hal ini kami implentasikan dalam pelayanan kami memberikan informasi dan edukasi kepada pasien-pasien yang datang ke rumah sakit. Baik informasi dan edukasi kaitannya dengan penyakitnya atau kaitannya dengan memotivasi pasien atas kesadaran berobat ke rumah sakit adalah salah satu ikhtiar yang harus dilakukan untuk mendapatkan kualitas kesehatannya kembali. Sebuah contoh disaat seseorang mampu mengimplementasikan ilmu agamanya untuk memberikan ketenangan kepada orang sakit/pasien, sehingga timbul kesadaran, keyakinan dan kepasrahan kepada Allah swt. Misalkan lewat do’a yang dipanjatkankan untuk kesembuhan pasien tersebut, sehingga bukan hanya secara medis ikhtiar yang dilakukannya tetapi dengan spiritualnyapun dilakukan. Bahkan dengan ilmu agama ini dapat memberikan manfaat lewat pendekatan keagamaan dengan bimbingan ibadah sesuai tuntunan dan contoh dari Rasulullah saw.

“Jika seseorang meninggal maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal; shadaqah jariyah, ilmu
yang manfaat, dan anak shalih yang mendoakan orang tuanya” (HR. Muslim)

Kedua Tenaga/Keahlian,bentuk kemanfaatan berikutnya adalah tenaga/ keahlian manusia bisa memberikan kemanfaatan kepada orang lain dengan tenaga/ keahlian yang ia miliki. Begitupun dengan pelayanan di rumah sakit kami seluruh karyawan terutama profesi yang langsung berhubungan dengan pasien tentunya dengan memberikan bantuan saat dalam perawatan atau mengobati pasien sesuai ilmu/ keahlian yang dimiliki, dengan  kita memiliki keahlian dalam hal itu, kita juga bisa membantunya dan memberikan kemanfaatan dengan keahlian tersebut dalam membantu pasien-pasien untuk meningkatkan derajat kesehatannya.

Ketiga, Akhlak/Sikap yang baik. Sikap yang baik kepada sesama juga termasuk kemanfaatan. Baik kemanfaatan itu terasa langsung ataupun tidak langsung. Maka Rasulullah SAW memasukkan senyum kepada orang lain sebagai shadaqah karena mengandung unsur kemanfaatan. Dengan senyum dan sikap baik kita, kita telah mendukung terciptanya lingkungan yang baik dan kondusif. Kami di Rumah Sakit Al Islam Bandung menanamkan akhlak/ sikap yang baik/ carring setiap karyawannya agar bersikap kepada setiap pasien, keluarga pasien, pengunjung ataupun mitra RS agar memberikan pelayanan sesuai dengan 4 SGRT (Senyum, Salam, Sapa, Sopan Santun, Gesit, Responsif dan Terima Kasih) sebagai atribut jasa,  berusaha mengimplementasikan 7 (tujuh) nilai/ Core Value  (Kasih-Sayang, Bersih, Jujur, Disiplin, Tanggung Jawab, Kerjasama dan Ridho alloh) serta berusaha dalam bekerja selalu berlandaskan pada Core Beliefe (Iman, Islam, Ihsan) sehingga saat bekerja diniatkan hanya untuk beribadah kepada Allah dan merasa Bersama-sama dan diawasi oleh Allah sehingga diharapkan karyawan (dokter, perawat, seluruh tenaga kesehatan dan tenaga admisistrasi)  menampilkan kinerja terbaiknya dalam memberikan pelayanan kepada pasien.

Semakin banyak seseorang memberikan kemanfaatan kepada orang lain  – maka semakin tinggi tingkat kemanfaatannya bagi orang lain. Semakin tinggi kemanfaatan seseorang kepada orang lain, maka ia semakin tinggi posisinya sebagai manusia menuju “manusia terbaik” seperti hadist yang tercantum di awal tulisan ini.

Banyak cara dan langkah untuk  menjadi Pribadi Yang Bermanfaat (Motivasi Islam.com) sehingga dapat membantu saudara kita yang lain diantaranya adalah:

Kemauan: kuncinya untuk menjadi pribadi yang bermanfaat  adalah kemauan .Kemauan untuk menebar ilmu yang dimiliki agar bermanfaat untuk banyak orang. Kemauan untuk membantu dengan tenaga/ keahlian yang dimiliki. Kemauan untuk mengimplementasikan akhlak/ sikap yang baik, memang tidak mudah orang bersikap baik kepada orang lain bila tidak muncul dari hatisanubari/ kemauan yang tulus yang bersumber dari akhlak terbaik. Sehingga orang lain/ pasien dapat meningkatkan pengetahuan/ menambah wawasan dalam membantu baik dari sisi tenaga/ keahlian dan dengan akhlak atau sikap yang baik setiap pasien yang datang ke Rumah Sakit Al Islam Bandung mendapatkan peningkatan derajat kesehatan dengan rasa puas dan dapat menerima pelayanan sesuai standar dengan baik. ,

 

Lakukan Sekarang: apa yang bisa Anda ‘lakukan sekarang’ untuk memberikan manfaat kepada orang lain? Selama itu sebuah perbuatan yang akan memberikan manfaat buat saudara-saudara/ pasien-pasien kita maka lakukanlah sesegera mungkin, jangan sampai peluang kebaikan atau amal sholeh yang sudah ada dihadapan kita yang bisa kita lakukan kemudian kita menunda-nundanya. Diantaranya mendo’akan orang yang sakit, memotivasinya, bahkan sampai kita membimbing dalam melaksanakan ibadahnya. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepda diri kita.

 

Jadikan sebagai kebiasaan: jika memberikan manfaat kepada orang lain/ pasien kita sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, maka kita sudah memulai untuk menjadi pribadi yang bermanfaaat. Bukan hanya menjadi pribadi yang bermanfaat tapi bila hal tersebut sudah menjadi kebiasaan yang terus menerus dilakukan maka itu sudah menjadi akhlaq buat kita.

 

Tingkatkan Manfaat Diri: untuk memberikan kebaikan kepada orang lain tentunya kita pun harus meningkatkan manfaat untuk diri kita sendiri artinya bagaimana kita menambah dan meningkatkan skill dan pemahaman ilmu yang sudah kita  miliki sehingga kita akan mudah untuk beramal atau berbuat kebaikan tersebut lebih baik lagi.

 

Ikhlaskan apa yang telah kita berikan:ikhlas adalah kunci diterimanya amal. Dan hanya amal yang diterima Allah SWT yang akan memberikan manfaat kepada kita dunia dan akhirat. Jangan sampai apa yang kita lakukan hanya ingin mendapat pujian/ penghargaan, hati-hati penyakit Riya’ itu sangat samar dan sungguh sangat tidak terlihat karena itu adalah perbuatan hati. Luruskan niat, bahwa apa yang kita lakukan hanya karena Allah semata, bukan karena ingin disebut pribadi yang bermanfaat (sebagai pujian).

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Leave a reply