Masalah Gizi dalam Keluarga (2)

Dr.Gaga Irawan Nugraha, MGizi., dr., SpGK

Dokter Spesialis Gizi Klinik RS Al Islam Bandung

Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

 

 

 

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar”. (QS ‘Annisa :9)

Selain gizi lebih yang sudah dibahas pada minggu yang lalu, keadaan gizi kurang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia.  Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar 2018 rerata anak balita dengan gizi kurang dan buruk mencapai 17,7%, balita stunting (pendek) 30,8%.  Wanita usia subur dengan kurang energi kronis mencapai 14,5%, dan wanita hamil dengan kurang energi kronis 17,3%.  Keadaan yang lebih mengkhawatirkan adalah anemia pada ibu hamil yang reratanya mencapai 48,9%, meningkat dibandingkan tahun 2013 dengan rerata 37,1%.

Keadaan gizi kurang pada ibu hamil baik kurang energi kronis ataupun anemia merupakan faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan janin di dalam kandungan yang apabila terus berlanjut akan menyebabkan terganggunya pertumbuhan janin sehingga anak yang dilahirkan kurang dari 2,5 kg yang dikenal sebagai bayi berat lahir rendah (BBLR). Apabila keadaan gizi kurang terus berlanjut, maka anak akan mengalami gizi kurang dan stunting (pendek).   Agar hal tersebut tidak terjadi, maka perlu dilakukan upaya pencegahan sejak ibu akan hamil.  Sebaiknya berat badan ibu dijaga tidak kurang,  yang ditandai dengan indeks massa tubuh lebih dari 18 kg/m2, lingkar lengan atas (LLA) lebih dari 23,5 cm, dan kadar hemoglobin tidak kurang dari 11 gr/dL.

Indeks massa tubuh menggambarkan cadangan energi ibu, sedangkan lingkar lengan atas selain menunjukkan cadangan energi, juga menunjukkan status protein tubuh.  Kadar hemoglobin lebih menunjukkan status zat besi tubuh sekaligus juga status protein.  Cara menghitung indeks massa tubuh adalah berat badan (kg)/tinggi badan (m2), sedangkan lingkar lengan atas diukur dengan menggunakan meteran baju di lengan atas pada titik tengah antara tonjolan tulang di siku dengan tonjolan tulang belikat.

Upaya pencegahan gizi kurang pada anak sebaiknya diawali dari sejak ibu akan hamil, dan dilanjutkan saat masa kehamilan, serta pada masa pertumbuhan anak.  Makin dini upaya tersebut, maka hasilnya semakin baik.  Upaya pencegahan gizi kurang dilakukan dengan cara menjaga asupan makanan ibu yang akan hamil agar dapat menunjang kesehatan ibu dan menyiapkan tubuh ibu untuk kehamilan.  Untuk mencapai hal tersebut yang perlu diperhatikan adalah jenis, jadwal dan jumlah.

Jenis makanan yang sebaiknya dikonsumsi telah tercantum di dalam al Quran seperti tertulis di bawah ini:

“ Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya”  (QS ‘Abasa:24)

“lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran (QS ‘Abasa:27-28)

“dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (QS ‘Abasa:31-32)

Biji-bijian adalah makanan sumber protein nabati.  Rumput-rumputan adalah nasi sebagai sumber karbohidrat.  Anggur dan buah-buahan adalah bahan makan sumber serat larut air, vitamin dan mineral dan secara khusus disebutkan anggur mewakili buahan buahan yang kaya akan serat larut air, rendah karbohidrat (berair banyak), dan kaya zat antioksidan (anthocyanin).  Sayur-sayuran adalah bahan makanan sumber vitamin, mineral dan serat tidak larut air, serta binatang ternak adalah sumber protein hewani.

Maka jenis makanan yang sebaiknya dikonsumsi terdiri dari: Sumber karbohidrat dan direkomendasikan nasi, sumber protein hewani dari hewan dan produknya (daging, ikan, ayam, telur) , sumber protein nabati dari kacang-kacangan (kacang, tahu, tempe, petis)  serta sayuran dan buah-buahan yang berair banyak (jeruk, jambu, pepaya, semangka, melon, nanas, buah naga, belimbing, rambutan, dukuh, apel, anggur).  Inilah yang dikenal sebagai 4 sehat.  Makanan tersebut dikonsumsi dengan jadwal yang teratur, fungsinya untuk menjaga rasa lapar dan kenyang sehingga kadar gula akan terjaga dan terhindar dari risiko penyakit kencing manis.  Makanan secara umum dibagi menjadi 2 bagian, makanan utama dan makanan selingan.  Makanan utama terdiri dari makan 4 sehat seperti di atas tanpa buah-buahan.  Makanan utama sebaiknya dikonsumsi 3 kali sehari, dan diawali dengan makan pagi (sarapan).

Makan pagi sangat penting, karena semalaman (kurang lebih 8 jam) tubuh kita tidak mendapatkan zat gizi, sehingga di pagi harus harus mengkonsumsi makanan yang mengandung zat gizi yang lengkap (karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayuran).  Untuk bahan makanan sumber karbohidrat sebaiknya dipilih yang tidak cepat meningkatkan gula darah, pilihannya nasi bukan bubur atau roti.  Mengkonsumsi nasi sebagai makanan sarapan akan membuat gula darah tidak cepat naik dan mudah untuk mengatur agar makan 4 sehat dapat tercapai.  Sebagai contoh makan pagi nasi  dengan tempe, telur dan mentimun, pada makan pagi ini gula darah tidak mudah meningkat, dan mengandung sumber protein hewani (telur), nabati (tempe) dan serat (mentimun).  Sarapan pagi ini selain mengandung zat gizi yang lengkap juga lebih sulit dicerna sehingga akan menimbulkan dampak kenyang yang lama.

Berbeda bila yang dikonsumsi adalah bubur ayam yang biasa dikonsumsi bersama dengan sedikit ayam, sedikit bawang daun, dan kerupuk.  Selain tidak mengandung zat gizi yang lengkap, sarapan pagi ini akan menyebabkan gula darah naik dengan cepat dan turun pula dengan cepat sehingga, satu hingga tiga jam setelah sarapan akan kembali lapar dan akhirnya kita akan berupaya mencari makanan lain.

Berbagai penelitian membuktikan bahwa kegemukan atau obesitas lebih banyak terjadi pada orang-orang yang tidak atau jarang sarapan pagi atau sarapan pagi dengan makanan yang mudah meningkatkan gula darah (roti, bubur, dll).

Makan siang dikonsumsi secara teratur pada sekitar jam 12 siang dan makan malam tidak lebih dari jam 7 malam dengan komposisi 4 sehat seperti yang diterangkan di atas.  Setelah makan malam malam sebaiknya tidak mengkonsumsi apapun hingga tidur dan bangun di pagi hari, namun minum air diperbolehkan selama tidak mengandung gula. Bioritme tubuh kita telah dirancang untuk lebih hemat dimalam hari, sehingga apabila masih mengkonsumsi makanan yang mengandung energi, keadaan gizi lebih akan lebih mudah terjadi.

Makanan selingan harus dikonsumsi diantara makan pagi dan siang sekitar jam 9.30 pagi, dan antara makan siang dan malam sekitar jam 3.30 sore.  Jenis yang dikonsumsi tergantung dari keadaan status gizi anda.  Untuk yang sudah memiliki status gizi lebih, maka yang dikonsumsi hanyalah buah-buahan berair banyak.  Namun untuk anak yang sedang tumbuh, ibu yang sedang mempersiapkan diri untuk hami dan masih kurus, serta ibu yang hamil, juga termasuk orang dengan status gizi kurang maka selain buah-buahan perlu ditambahkan makanan camilan lainnya yang mengandung cukup energi, dan protein seperti kue, bubur kacang hijau ketan hitam, dan berbagai makanan camilan lainnya (apapun).

Upaya pengurangi jumlah makanan yang dikonsumsi harus diawali dengan pengaturan jenis  (4 sehat) dan jadwal yang teratur, 3 kali makan utama dan 2 kali selingan serta berhenti mengkonsumsi apapun setelah makan malam kecuali minum tanpa gula.  Bila pola makan ini dapat dilaksanakan, maka upaya meningkatkan status gizi ibu sebelum hamil dan upaya pencegahan gizi lebih dapat lebih mudah dilakukan, sehingga kurang gizi kronis dan anemia pada ibu hamil serta anak dengan gizi kurang dan pendek (stunting) dapat dicegah.  Pola makan ini juga sangat bermanfaat untuk yang telah memiliki gizi lebih karena dengan pola makan yang teratur dan makan 4 sehat, komposisi makan akan lebih baik dan rasa lapar kenyang lebih teratur sehingga dapat menghambat keinginan untuk makan camilan.  Demikian semoga bermanfaat.

Semoga tulisan sederhana ini dapat bermanfaat bagi para pembaca yang budiman dan bagi yang ingin berkonsultasi lebih jauh mengenai  Gizi Lebih ini dapat menghubungi kami di Poli Klinik Konsultasi Gizi RS Al Islam Bandung yang akan dilayani oleh Dokter Spesialis Gizi Klinik yang berpengalaman di bidangnya, untuk informasi jadwal praktek Poli Klinik Konsultasi Gizi, silahkan anda mengunjungi website www.rsalislam.com atau ke bagian informasi di telp.022-7562046 ext.705 dan bagi warga masyarakat yang memerlukan penyuluhan mengenai Kesehatan Gizi (Gratis) dapat menghubungi bagian PKRS RS Al Islam Bandung pada jam kerja di Telp.022-7562046 ext.822.

 

Leave a reply