Insiden pasien jatuh merupakan salah satu fokus sasaran keselamatan pasien di rumah sakit. Di Amerika Serikat sekitar 700.000 sampai 1.000.000 orang jatuh di rumah sakit setiap tahunnya. Berdasarkan data dari NRLS (National Reporting and Learning System) tahun 2015/2016, insiden pasien jatuh di Inggris merupakan insiden yang paling sering terjadi di rumah sakit umum dan menduduki peringkat tiga besar insiden di rumah sakit jiwa. Angka kejadian pasien jatuh di Indonesia sendiri belum ada angka pasti, berdasarkan laporan dari kongres XII PERSI tahun 2012 menyatakan bahwa kejadian pasien jatuh termasuk dalam tiga besar insiden medis rumah sakit dan menduduki peringkat kedua setelah medication error yaitu sebesar 14%.(Agency for Healthcare Research and Quality, 2013; NHS, 2017; Dewi and Noprianty, 2018) Data di Rumah Sakit Al Islam Bandung sebagai salah satu rumah sakit swasta di Bandung memperlihatkan ada 9 kasus pasien jatuh pada tahun 2015, turun menjadi 3 kasus pada tahun 2016 kemudian naik kembali menjadi 7 kasus pada tahun 2017. Tahun 2018 tercatat 5 pasien jatuh pada tahun 2018. Kasus jatuh yang terjadi tidak menimbulkan cedera yang serius.

Di Amerika Serikat Sekitar 30-50% dari pasien jatuh di rumah sakit mengalami cedera. Cedera akibat jatuh memerlukan tambahan pengobatan dan menambah lama rawat 6,3 hari. Rata-rata biaya yang dibutuhkan dalam penanganan cedera akibat jatuh tersebut sekitar $14.000. Berdasarkan data dari The Joint Commision, sejak tahun 2009 sentinel even akibat jatuh terdapat sebesar 465 kasus. Insiden pasien jatuh disertai dengan cedera serius termasuk dalam 10 kasus terbanyak dari sentinel even. Tingginya dampak dari insiden pasien jatuh menuntut rumah sakit, perawat, dan profesi pemberi asuhan kesehatan lain untuk membuat program pencegahan cedera akibat jatuh yang efektif dalam mencegah insiden pasien jatuh di rumah sakit.(The Joint Commission, 2015; Chu, 2017)

Pencegahan insiden jatuh memerlukan pendekatan asuhan secara interdisiplin. Beberapa bagian dari program pencegahan jatuh merupakan tindakan rutin, tetapi beberapa aspek lain merupakan penanganan yang spesifik dan berbeda untuk setiap pasien. Pencegahan jatuh membutuhkan keterlibatan banyak orang termasuk semua profesi pemberi asuhan dan keluarga pasien. Untuk meningkatkan koordinasi semua pihak, dibutuhkan budaya organisasi dan standar operasional dalam kerjasama tim dan komunikasi, serta kompetensi individual. Program pencegahan jatuh harus memperhatikan keseimbangan dengan faktor lain, seperti meminimalkan restrain dan mempertahankan mobilitas pasien untuk memberikan asuhan terbaik. Peningkatan pencegahan insiden jatuh harus berfokus pada sistem yang perlu diubah.(Agency for Healthcare Research and Quality, 2013)

Rumah Sakit Al Islam Bandung sebagai rumah sakit dengan badan hukum Yayasan RSI KSWI Jawa Barat selalu berkomitmen untuk terus menerus meningkatkan mutu layanan dan keselamatan pasien. Pencegahan pasien jatuh merupakan komitmen dari Rumah Sakit Al Islam Bandung, sebagaimana tertuang dalam peraturan direktur nomor 1874/RSAI/PER/DIR/IV/2018, serta membuat panduan pencegahan pasien jatuh yang dimulai dengan melakukan identifikasi risiko jatuh pasien, memberikan fasilitas pendukung, melakukan upaya penanggulangan, membuat laporan insiden pasien jatuh, evaluasi insiden pasien jatuh sampai upaya perbaikan yang secara terus-menerus dilakukan.(Amalia, Amalia and Andayani, 2018)

Indikator proses observasi dari kepatuhan penanganan pasien risiko jatuh diambil sebagai upaya lanjutan pencegahan pasien jatuh, untuk melihat apakah upaya pencegahan sesuai dengan protokol pencegahan pasien jatuh. Melakukan pendataan jumlah pasien yang jatuh dan tindak lanjutnya merupakan upaya awal dalam mencegah insiden pasien jatuh.

Pencapaian kepatuhan pencegahan risiko cedera akibat jatuh masih sedikit dibawah standar. Capaian pada tahun 2018 rata-rata sebesar 96,58%. Angka kepatuhan pencegahan risiko cedera akibat pasien jatuh di RS Al Islam Bandung apabila dibandingkan dengan data dari rumah sakit lain memperlihatkan hasil capaian yang cukup baik dan rumah sakit pembanding memperlihatkan angka kepatuhan yang juga belum mencapai standar (lihat tabel 1). Program pencegahan risiko cedera akibat jatuh sudah dilakukan di RS Al Islam sejak tahun 2016. Pencapaian kepatuhan pencegahan risiko jatuh tahun 2016 dan 2017 sudah di atas target yaitu lebih dari 95%. Mengevaluasi hasil capaian tersebut, maka komite peningkatan mutu dan keselamatan pasien (PMKP) bersama-sama dengan unit pelayanan meningkatkan standar kepatuhan pencegahan risiko cedera akibat jatuh menjadi 100% untuk tahun 2018.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 129/Menkes/SK/II/2008 tentang standar pelayanan minimal (SPM) rumah sakit, untuk rawat inap diantaranya adalah tidak adanya kejadian pasien jatuh yang berakibat kecacatan/kematian harus 100%, sedangkan kepatuhan pencegahan risiko cedera akibat jatuh secara umum belum ada peraturan yang menjelaskannya baik konsensus nasional maupun konsensus profesi sehingga standar ditetapkan secara konsensus pada tahun pertama dan dapat disesuaikan dengan tren naik atau turun. (Kemenkes RI, 2008; Luwiharsih, 2018). Sejak tahun 2016 sampai saat ini, tidak ada pasien yang sampai meninggal atau cacat karena jatuh di RS Al Islam Bandung.

Untuk capaian setiap bulan memperlihatkan tren di atas 95% (Lihat tabel 2) kecuali pada bulan September dan Oktober. Terjadi penurunan kepatuhan di bulan September 2018 yang disebabkan karena:

  1. Secara tidak langsung ada perubahan dalam pendokumentasian upaya pencegahan jatuh secara manual menjadi e-medrek, sehingga mempengaruhi kinerja karena ada hal baru yang belum terbiasa dilakukan.
  2. Belum optimalnya supervisi terhadap kepatuhan staf.
  3. Dimasukannya satu poin yaitu adanya asesmen jatuh di rawat jalan dan IGD sebagian bentuk upaya pencegahan jatuh

Adanya perubahan metode pengumpulan data ke e-medrek merupakan tuntutan dari akreditasi rumah sakit di Indonesia oleh Komite Akreditasi Rumah Sakit untuk memudahkan Komite PMKP. Perubahan sistem pencatatan dari manual ke elektronik mensyaratkan validasi data untuk memastikan pengambilan data yang baru tetap konsisten dan reproducible. Hasil validasi memperlihatkan hasil 84% yang artinya proses pengumpulan data dapat dilakukan dengan e-medrek. Selain perubahan sistem pencatatan, data yang akan dipublikasi ke masyarakat juga harus dilakukan validasi.(Luwiharsih, 2018)

Rencana tindak lanjut dari pencapaian kepatuhan pencegahan risiko cedera akibat jatuh yang belum mencapai standar pada tahun 2018 di Rumah Sakit Al Islam Bandung adalah:

  1. Data kejadian jatuh dan data pencapaian kesesuaian penanganan pasien jatuh akan menjadi data dasar dalam rencana tindak lanjut untuk mencegah pasien jatuh saat dirawat di RS Al Islam.
  2. Optimalisasi fungsi monitoring dan evaluasi oleh supervisor dalam penanganan pasien risiko jatuh.
  3. Kampanye pencegahan risiko jatuh secara terus menerus kepada staf

Cukup banyak tenaga, pikiran, dan waktu yang dihabiskan untuk dapat tetap berkomitmen dalam menjaga keselamatan pasien khususnya untuk mencegah risiko cedera akibat jatuh pada pasien-pasien yang di rawat di RS Al Islam Bandung. Empat tahun terakhir rumah sakit berusaha membentuk sistem pencegahan insiden jatuh disemua faktor yang mempengaruhi, tetapi langkah berikutnya yang jauh lebih sulit adalah terus mempertahankan sistem yang telah berjalan cukup baik secara terus menerus untuk menjaga kualitas pelayanan Rumah Sakit Al Islam Bandung sesuai dengan visinya yaitu “Menjadi Rumah Sakit yang Unggul, Terpercaya dan Islami dalam Pelayanan dan Pendidikan”.

 

Daftar Referensi

Agency for Healthcare Research and Quality (2013) Preventing Falls in Hospitals A Toolkit for Improving Quality of Care. Boston.

Amalia, Amalia, N. and Andayani, Y. (2018) Panduan Pencegahan Pasien Jatuh RS Al Islam Bandung. Bandung.

Chu, B. R. Z. (2017) ‘Preventing in-patient falls : The nurse ’ s pivotal role’, Nursing, 47(3).

Dewi, T. and Noprianty, R. (2018) ‘PHENOMENOLOGI STUDY: RISK FACTORS RELATED TO FAAL INCIDENCE IN HOSPITALICED PEDIATRIC PATIENT WITH THEORY FAYE G. ABDELLAH’, NurseLine Journal, 3(2), pp. 6–7.

Kemenkes RI (2008) Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 129/Menkes/SK/II/2008 tentang standar pelayanan minimal (SPM) rumah sakit.

Luwiharsih (2018) Pemilihan dan Pengumpulan Data (dalam WS PMKP). Semarang.

NHS (2017) The incidence and costs of inpatient falls in hospitals.

The Joint Commission (2015) ‘Preventing falls and fall-related injuries in health care facilities’, Sentinel Event Alert, (55).

Leave a reply